BEKASI.POJOKSATU.ID - Migrain kerap dikenal masyarakat sebagai sakit kepala sebelah. Meski sama-sama termasuk gangguan sakit kepala, migrain memiliki karakteristik, pemicu, serta gejala penyerta yang berbeda dibandingkan sakit kepala biasa. Pemahaman yang tepat mengenai kondisi ini dinilai penting agar penanganannya bisa lebih optimal.
Spesialis Saraf Eka Hospital Bekasi, dr. Novrialdi Kesuma Putra, Sp.N, menjelaskan bahwa migrain merupakan jenis sakit kepala yang ditandai dengan nyeri berdenyut dan umumnya muncul di salah satu sisi kepala. Kondisi ini sering disertai keluhan lain seperti sensitivitas berlebihan terhadap cahaya dan suara.
“Migrain bukan sekadar sakit kepala biasa, karena intensitas nyerinya cenderung lebih berat dan bisa sangat mengganggu aktivitas,” ujarnya, Kamis, 29 Januari 2026.
Baca Juga: Tren Home Brewing Melejit, Minum Kopi Enak Kini Bisa Lebih Murah
Menurut dr. Novrialdi, serangan migrain dapat berlangsung selama beberapa jam, bahkan dalam kondisi tertentu bisa bertahan hingga berhari-hari. Hal ini yang membedakannya dari sakit kepala biasa yang umumnya bersifat lebih ringan dan singkat.
Pada sakit kepala biasa, rasa nyeri sering digambarkan seperti kepala ditekan atau terasa berat dan biasanya dirasakan di seluruh bagian kepala, termasuk dahi, pelipis, atau bagian belakang leher.
Sementara itu, pada migrain, nyeri terasa berdenyut dan terfokus pada satu sisi kepala.
“Pasien migrain sering mengeluhkan nyeri yang berdenyut dan semakin berat saat beraktivitas,” kata dr. Novrialdi. Ia menambahkan bahwa intensitas nyeri migrain umumnya berada pada tingkat sedang hingga berat, sehingga membuat penderitanya sulit beraktivitas normal.
Dari sisi pemicu, sakit kepala biasa sering dipengaruhi oleh faktor seperti stres, kelelahan mata, atau ketegangan otot. Namun, migrain memiliki pemicu yang lebih beragam.
Dr. Novrialdi menjelaskan bahwa migrain dapat dipicu oleh kurang tidur, telat makan, perubahan hormon, konsumsi alkohol atau kafein berlebihan, hingga perubahan cuaca dan tekanan udara.
“Setiap orang bisa memiliki pemicu migrain yang berbeda, sehingga penting bagi pasien untuk mengenali pola serangannya,” jelasnya.
Baca Juga: Bekasi Makin Hidup! Ini 16 Kafe dan Tempat Nongkrong Baru yang Wajib Dicoba
Migrain sendiri terbagi menjadi dua jenis utama, yakni migrain dengan aura dan migrain tanpa aura. Aura merupakan sensasi yang muncul sebelum serangan migrain, biasanya sekitar 10 hingga 30 menit sebelumnya. Pasien dengan migrain aura dapat mengalami gangguan penglihatan, kesemutan pada wajah atau tangan, hingga perubahan indra penciuman dan pengecap.
“Aura ini menjadi tanda awal bagi sebagian pasien sebelum nyeri kepala muncul,” ungkap dr. Novrialdi.
Dalam perjalanan penyakitnya, migrain juga memiliki beberapa fase. Pada fase serangan, penderita biasanya mengalami sakit kepala sebelah yang berdenyut, disertai mual, muntah, serta kepekaan tinggi terhadap cahaya dan suara. Serangan ini bisa berlangsung dari beberapa jam hingga beberapa hari apabila tidak ditangani dengan baik.
Hingga kini, penyebab pasti migrain belum sepenuhnya diketahui. Namun, faktor genetik dan lingkungan diyakini berperan besar. Risiko migrain juga meningkat pada kondisi tertentu seperti stres berkepanjangan, perubahan pola tidur, aktivitas fisik berlebihan, hingga konsumsi makanan tertentu yang tinggi garam atau mengandung bahan tambahan seperti MSG.
Dalam penanganannya, dr. Novrialdi menekankan bahwa terapi migrain bertujuan untuk meredakan gejala dan mencegah kekambuhan.
“Penanganan migrain biasanya meliputi pemberian obat pereda nyeri serta anjuran untuk menghindari faktor pencetus,” ujarnya.
Selain itu, beberapa metode pendukung seperti kompres hangat, pijat, peregangan leher, hingga relaksasi juga dapat membantu mengurangi keluhan.
Ia menyarankan agar masyarakat tidak mengabaikan migrain yang sering kambuh atau semakin berat.
“Jika sakit kepala sebelah atau migrain terus berulang dan tidak membaik, sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter agar penyebabnya dapat diketahui dan ditangani secara tepat,” tutup dr. Novrialdi.***




