BEKASI.POJOKSATU.id - Pada artikel sebelumnya kita telah belajar mengenai perbedaan antara buku fiksi dan buku nonfiksi. Untuk lebih memperdalam dan menambah pengetahuan mengenai karakteristik kedua karya tersebut.

Ada baiknya kita harus membaca secara rutin kedua jenis karya tersebut. Dengan begitu kita akan lebih mudah mengenali karakteristik dari keduanya. Sekaligus dapat memetik buah pengetahuan dari para penulisnya.

Sebagai pembaca kecenderungan bacaan pasti terdapat perbedaan satu dengan lainya. Untuk para pembaca yang menyukai model tulisan dengan cenderung imajinatif buku fiksi merupakan jawaban yang tepat.

Baca Juga: Contoh Buku Fiksi dan Non Fiksi Pahami Perbedaan dan Manfaat Keduanya

Mengingat karakteristik karya ini cenderung menggugah imajinasi dari pembaca. Di artikel ini kita akan bahas karya sastra yang berpengaruh di kancah susastra Indonesia dan kerap mendapat predikat wajib dibaca. Paling tidak dibaca sekali dalam seumur hidup. Apa aja sih. Coba Simak.

Tetralogi Pulau Buru Karya Pramoedya Ananta Toer

Bumi Manusia

Buku karya Pram satu ini mesti menjadi daftar bacaan wajib. Pasalnya buku fiksi ini merupakan buku yang sarat akan kritik sosial. Sebuah medium sekaligus menjadi sarana Pram untuk memperlihatkan bagaimana tertindasnya bangsa pribumi oleh kolonialisme. Pram dengan kritis membongkar efek destruktif dari kolonialisme melalui sudut pandang Minke dalam karyanya ini.

Anak Semua Bangsa

Sedangkan pada karya keduanya ini, Pram ingin menjelaskan sebuah konteks pada zaman Belanda. Sebuah kondisi sosial yang serba tegang antara pribumi dengan Belanda. Berkecamuknya krisis identitas menjadi sebuah tema yang renyah ditulis oleh seorang sastrawan kenamaan kelahiran Blora.

Baca Juga: Manfaat Memancing untuk Kesehatan Fisik dan Mental, Mancing Mania Wajib Baca

Jejak Langkah

Pada sekuel berikutnya Pram menggunakan identitas Minke yang merupakan seorang Jawa ingin melukiskan bagaimana situasi pergerakan nasional kala itu. Terdapat sebuah kronik pada sekuel ketiganya ini. Sebuah upaya perjuangan melawan penindasan yang terjadi di Hindia. Menunjukan kondisi sosio-kultural yang tidak menentu selama pergerakan nasional.

Rumah Kaca

Buku terakhir dari sekuel ini adalah Rumah Kaca. Buku fiksi ini bercerita tentang puncak konflik politik-budaya pada masa itu. Sekaligus menceritakan sepenggal kisa pilu dari tokoh utamanya minke selama diperasinganya.

 

Secara luas karya pram mendapatkan pengakuan. Bahkan secara internasional karya-karya ini menjadi sebuah bahan ajar dalam melihat bagaimana dampak kolonialisme pada koloninya. Selain itu, buku ini mencetak sukses dengan penjualan dan cetak ulang. Bahkan secara internasional buku ini sukses diterima dan diterbitkan dalam beberapa bahasa.

Pulang karya Leila S. Chudori

Novel terbitan 2013 ini dirasa masih layak dan penting untuk dibaca. Meskipun sudah hampir satu dekade novel ini masih terus diperbincangkan dan mendapatkan atensi. Bagaimana tidak, novel yang ditulis dengan apik oleh Leila ini, menceritakan perjuangan eksil politik tahun 1965 yang harus berjuang setelah kehilangan “rumah”. Membaca novel ini kita akan diajak untuk berselancar menemui khazanah politik waktu itu. Pembaca akan menembus waktu, sebagaimana novel ini disajikan. Dengan alur bergerak dari masa lalu hingga masa kini, kita akan diajak untuk menyelami rasa takut, trauma dan pencarian identitas yang tak kunjung memberikan hasil.

Laskar Pelangi Karya Andrea Hirata

Novel ini pertama kali mengudara di kancah literasi Indonesia pada tahun 2005. Diterbitkan oleh salah satu penerbit kenamaan Indonesia menjadikan novel ini sudah tidak diragukan kualitasnya. Hal ini bukan isapan jempol belaka, sebut saja satu prestasinya yaitu pada 2008 novel pertama Andrea Hirata sukses di filmkan. Karyanya ini tampil mengisi bioskop di seluruh Indonesia dengan judul yang sama.

Buku ini mengisahkan perjuangan sekelompok anak-anak yang tinggal di pulau Belitung. Tinggal di sebuah pulau kecil menjadikan kehidupan disana sangat terbatas, tidak banyak pilihan. Hal ini yang dialami oleh tokoh-tokoh dalam novel ini.

Baca Juga: 5 Tempat Makan Sop Janda di Cibitung dan Cikarang Barat yang Cocok untuk Goyang Lidah

Novel ini menjadi layak untuk dibaca karena mengajarkan rasa persahabatan, tekad dan kerja keras untuk menempuh pendidikan. Semangat yang diajarkan dalam novel ini begitu penting.

Dengan membaca novel ini imajinasi kita tentang dunia pendidikan akan diubah ia akan bertransformasi. Pendidikan akan menjadi sebuah semangat yang dapat mengubah hidup seseorang. Sebagaimana yang terjadi pada anak-anak di pulai Belitong ini.

Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi

Buku ini sekali lagi akan mengajarkan pada kita mengenai imajinasi dunia pendidikan yang dapat merubah kehidupan seseorang. Sepenggal kalimat yang akan kita dapati dan renungi dalam-dalam di novel ini adalah “Man jadda wajadda” yang berarti “siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil”.

Novel ini mengajarkan bahwa hasil tidak akan menghianati usaha. Pengajaran ini menjadi lecutan agar dalam menjalani proses pada bidang apapun, kita tidak menjalaninya dengan setengah hati.

Novel ini mengisahkan lima orang anak yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia sedang menempuh pendidikan di sebuah pondok pesantren di Ponorogo. Karena kegemarannya menghabiskan waktu di bawah Menara pondok tersebut, kelimanya mendapat julukan sahibul menara.

Baca Juga: Tak Henti Inovasi Soal Rasa, Ini 5 Produk Unggulan Mie Gaga Besutan Djajadi Djaja

Singkatnya, kelima sahabat ini mempunyai impian masing-masing untuk menaklukan lima benua di dunia. Mimpi ternyata tidak semudah itu diwujudkan, hidup tidak semudah bayangan, kerasnya hidup menerpa mereka. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat kelimanya. Semua itu menjadikan motivasi mereka semakin besar dalam upaya mencapai sukses.

Kesimpulan

Buku fiksi merupakan buku yang disusun berdasarkan imajinasi dari penulis. Buku-buku ini layak dibaca karena merupakan sarana mudah untuk menangkap wawasan dari manapun. Membaca karya ini dapat menambah daya kreativitas kita mengingat buku ini dipenuhi ide dan imajinasi.

Di sisi lain, buku ini selalu dipenuhi dengan intrik dan konflik yang menguras emosi tokoh-tokohnya. Hal ini juga secara langsung dapat dirasakan oleh pembacanya. Hingga membacanya juga dapat menumbuhkan rasa empati kita.

Rasanya masih banyak manfaat membaca buku fiksi. Mulai sebagai sarana hiburan hingga menghilangkan kepenatan dan stres merupakan dampak positif dari membaca buku fiksi.***