BEKASI.POJOKSATU.id - Kisah inspiratif lahir dari sebuah perkampungan di pinggir utara Bekasi bernama Ujung Malang, yang kini dikenal sebagai Ujung Harapan, sebuah kawasan sejuk dan damai berkat keramahtamahan penduduknya. Di tengah masyarakat yang taat beragama, lahir seorang anak laki-laki bernama Nur Ali pada 15 Juni 1913 dari pasangan H. Anwar bin H. Layu dan Hj. Maimunah binti Tarbin.
Berdasarkan ulasan dari kanal YouTube Alfatih-bn6pn, tokoh yang kelak menjadi ulama karismatik dan pejuang kemerdekaan ini tumbuh sebagai anak bungsu yang memiliki jiwa kepemimpinan kuat dan tekad mewujudkan kampung halamannya menjadi kawasan yang religius.
Sejak kecil, Noer Ali menunjukkan ketertarikan mendalam pada ilmu agama serta bakat kepemimpinan yang menonjol di antara anak-anak seusianya. Perjalanan menuntut ilmunya dimulai pada tahun 1921 dengan berguru kepada Guru Maksum di Ujung Malang, kemudian dilanjutkan kepada KH. Muhi pada tahun 1923 hingga 1929. Melalui KH. Muhi, ia dipertemukan dengan KH. Ahmad Marzuki di Cipinang, Jakarta Timur, tempat di mana ia memperdalam ilmu bersama sejumlah rekan yang kelak menjadi ulama besar di wilayah Jabodetabek.
Perjalanan Menimba Ilmu di Makkah dan Kembali untuk Ummat
Merasa haus akan pengetahuan agama yang lebih luas, Nur Ali muda memutuskan untuk merantau ke Makkatul Mukarromah pada tahun 1933 untuk berguru langsung kepada ulama besar dunia.
Di Tanah Suci, ia menimba ilmu dari Syekh Muhammad Ali Al-Maliki, Syekh Umar Hamdan, Syekh Muhammad Amin Al-Qurthubi, serta mempelajari ilmu politik dari Syekh Abdul Jalil dan ilmu hadis dari Syekh Ibnu Arabi. Sekembalinya ke tanah air pada awal tahun 1940-an, ia langsung mendedikasikan diri dengan membuka majelis pengajian di masjid dekat kediamannya dan menikah dengan Siti Rohmah pada April 1943.
Di tengah gejolak revolusi fisik dan masa pendudukan Jepang, kegiatan pendidikan sempat mengalami dinamika sebelum akhirnya didirikan kembali wadah pendidikan rakyat. Berkat kerja keras para tokoh lokal, kegiatan belajar tersebut berkembang pesat hingga dipindahkan ke masjid yang kini menjadi Masjid Al-Baqiyatussholihat pada tahun 1952. Para alumni dari lembaga pendidikan rintisan ini kemudian menjadi motor penggerak utama dalam memajukan jaringan Pondok Pesantren Attaqwa di masa depan.
Transformasi Yayasan Attaqwa dan Warisan Perjuangan Umat
Untuk memperkuat gerakan dakwah dan sosial secara terstruktur, KH. Noer Ali mendirikan organisasi Pertolongan Penyelamatan Pendidikan Islam (P3 Islam) Ujung Malang yang kemudian resmi berstatus sebagai yayasan pada tahun 1956.
Di bawah kepemimpinannya, jaringan lembaga pendidikan Islam terus diperluas melalui pendirian Pesantren Bahagia, Madrasah Tsanawiyah (MTS) Attaqwa, hingga Madrasah Al-Baqiyatussholihat khusus putri pada tahun 1964. Yayasan ini kemudian bertransformasi menjadi Yayasan Attaqwa pada tahun 1986 sebelum estafet kepemimpinannya dilimpahkan kepada putranya, KH. Muhammad Aminur Nur.
Sang ulama besar yang dijuluki sebagai "Singa Karawang-Bekasi" ini akhirnya berpulang ke rahmatullah pada 5 Mei 1991 Masehi atau bertepatan dengan 25 Rajab 1412 Hijriah. Meski raganya telah tiada, warisan pendidikan dan "Kampung Surga" di Ujung Harapan yang beliau bangun tetap berdiri kokoh membawa keberkahan bagi masyarakat luas hingga saat ini.



