BEKASI.POJOKSATU.ID - Kawasan Glodok di Jakarta Barat selama ini dikenal sebagai pusat Pecinan tertua di ibu kota.

Identik dengan deretan kuliner Tionghoa, kawasan ini kerap diasosiasikan dengan makanan nonhalal.

Namun di balik citra tersebut, Glodok menyimpan beragam kuliner legendaris yang relatif ramah bagi wisatawan Muslim dan telah bertahan puluhan tahun hingga kini.

Baca Juga: Gajian Cair, Saatnya Hot Pot! Ini 5 Restoran Hot Pot Paling Enak di Jakarta untuk Makan Siang Mewah

1. Cempedak Cik Lina

Salah satu jajanan legendaris yang cukup populer adalah Cempedak Cik Lina yang telah berjualan sejak 1997 di kawasan Petak Enam, Pancoran Glodok.

Cempedak goreng di tempat ini dikenal memiliki ukuran besar dengan daging buah manis legit dan balutan tepung renyah.

Pengunjung juga bisa menambahkan siraman gula jawa cair untuk cita rasa manis yang lebih kuat.

Tanpa penggunaan bahan nonhalal, camilan ini kerap menjadi pilihan wisatawan Muslim, dengan harga mulai Rp 25.000 per porsi.

Baca Juga: Pencurian Kambing di Setu Bekasi Diselidiki Polisi, Pelaku Sembelih Ternak di Kandang

2. Kedai Lao Hoe

Tak jauh dari sana, Kedai Lao Hoe menjadi destinasi kuliner lain yang tak kalah legendaris.

Berdiri sejak era 1980-an, kedai ini menyajikan laksa Bogor dan mie Belitung tanpa menggunakan daging babi maupun lemak babi.

Suasana klasik ala Pecinan tempo dulu masih terasa kuat, bahkan kedai ini pernah menjadi lokasi syuting film “Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini”.

Dengan harga berkisar Rp 25.000 hingga Rp 50.000 per mangkuk, Lao Hoe kerap dipadati wisatawan lokal maupun luar kota.

 

3. Mie Baskom Mak Atun

Masih di kawasan yang sama, Mie Baskom Mak Atun telah menjadi favorit sejak 1995.

Sajian mie, bihun, dan kwetiau goreng disajikan dalam satu baskom besar dan dapat dipesan campur sesuai selera.

Selain menu utama, tersedia pula jajanan tradisional seperti ketan, combro, misro, hingga getuk singkong.

Meski belum bersertifikat halal, kedai ini dikenal tidak menggunakan bahan berbasis babi sehingga cukup diminati pengunjung Muslim.

4. Rujak Juhi Hasan

Kuliner khas Betawi juga hadir melalui Rujak Juhi Hasan yang berlokasi di Jalan Pancoran.

Perpaduan juhi, sayuran, mie kuning, dan bumbu kacang manis-asam menjadikannya sajian ikonik yang telah lama menyatu dengan denyut Glodok.

Baca Juga: Pencurian 7 Ekor Kambing di Setu, Diduga Disembelih di Kandang

5. Bakso Pikul Glodok

Sementara itu, Bakso Pikul Glodok yang berjualan sejak 1990 menawarkan bakso bersertifikat halal MUI dengan kuah kaldu gurih dan porsi mengenyangkan, dibanderol mulai Rp 25.000.

6. Djauw Coffee

Glodok juga memiliki kedai kopi legendaris seperti Djauw Coffee yang berdiri sejak 1943.

Kedai ini dikenal dengan metode seduh kopi ala Turki menggunakan pasir panas dan suasana etnik Tiongkok-jadul.

7. Kopi Es Tak Kie

Nuansa klasik semakin lengkap di Warung Kopi Sederhana d/h Kit Cong Kie atau Kopi Es Tak Kie yang berdiri sejak 1927.

Kesederhanaan menu dan konsistensi rasa menjadikan kedai ini tetap ramai hingga kini.

Deretan kuliner tersebut membuktikan bahwa Glodok bukan hanya kawasan bersejarah, tetapi juga ruang kuliner yang semakin inklusif bagi beragam latar belakang pengunjung.