BEKASI.POJOKSATU.id - Film Filosofi Teras yang diadaptasi dari buku karya Henry Manampiring tidak hanya menghadirkan tontonan drama keluarga yang mengharukan, tetapi juga mengenalkan penonton pada sebuah filsafat hidup kuno bernama Stoikisme.

Lewat kisah Nea yang diperankan Sherina Munaf, film ini berusaha menerjemahkan ajaran filsafat yang cukup berat menjadi cerita yang mudah dipahami dan terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Stoikisme sendiri merupakan aliran filsafat yang lahir di Athena, Yunani, dan pertama kali dipopulerkan oleh Zeno dari Citium. Nama Stoikisme diambil dari kata Yunani stoa, yang berarti serambi atau teras, karena ajaran ini pada masa itu memang biasa disampaikan di teras-teras kuil. Dari situlah judul buku Henry Manampiring, Filosofi Teras, sebenarnya diambil sebagai penerjemahan sederhana dari istilah tersebut.

Inti utama dari ajaran Stoikisme terletak pada konsep yang dikenal sebagai dikotomi kendali. Konsep ini mengajarkan bahwa dalam hidup, ada dua jenis hal, yaitu hal-hal yang berada dalam kendali kita dan hal-hal yang berada di luar kendali kita.

Baca Juga: Zee Asadel Gabung Filosofi Teras, Jadi Adik Sherina Munaf

Menurut ajaran ini, sumber ketenangan batin manusia justru datang dari kemampuan memahami batas tersebut, dengan fokus mencurahkan energi hanya pada hal-hal yang benar-benar bisa dikendalikan, seperti tindakan, pemikiran, dan sikap diri sendiri, sementara hal-hal di luar kendali seperti penilaian orang lain atau kejadian yang menimpa kita cukup diterima dengan lapang dada.

Dalam versi filmnya, prinsip ini coba dihadirkan lewat perjalanan hidup Nea, yang tiba-tiba harus menjadi tulang punggung keluarga usai kepergian sang ayah. Alih-alih menyampaikan teori filsafat secara gamblang lewat dialog, sutradara Affandi Abdul Rachman memilih pendekatan naratif, menghadirkan konflik demi konflik dalam kehidupan Nea, mulai dari beban ekonomi keluarga, hubungan dengan pasangannya, hingga dinamika dengan saudara-saudaranya, sebagai medium untuk menunjukkan bagaimana penerapan dikotomi kendali bisa membantu seseorang menghadapi tekanan hidup secara lebih rasional.

Pendekatan semacam ini sekaligus menjadi tantangan tersendiri bagi tim produksi, mengingat buku aslinya merupakan karya nonfiksi yang lebih banyak berisi penjelasan konsep filsafat dibandingkan narasi cerita.

Sutradaranya sendiri menyebut tugas utamanya adalah menerjemahkan esensi filosofi dalam buku tersebut ke dalam bentuk cerita yang relevan, sehingga penonton bisa ikut merasakan proses penerapan ajaran ini secara emosional, bukan sekadar memahaminya secara teoritis.

Baca Juga: Kenapa Sherina Munaf Pilih Peran Nea di Filosofi Teras

Selain mengangkat isu filosofis, film ini turut menyisipkan tema sosial yang semakin relevan di kalangan generasi muda Indonesia saat ini, yaitu fenomena sandwich generation, kondisi ketika seseorang harus menanggung kebutuhan hidup dua generasi sekaligus, baik orang tua maupun adik-adiknya.

Kombinasi antara ajaran filsafat kuno dan persoalan sosial masa kini inilah yang menjadikan Filosofi Teras terasa relevan, tidak hanya bagi pembaca setia bukunya, tetapi juga bagi penonton yang baru pertama kali mengenal konsep Stoikisme lewat medium film.***