BEKASI.POJOKSATU.id - Novel Bumi Manusia merupakan salah satu novel terbaik yang lahir dari rahim sastra Indonesia. Lahir dari pengarang kenamaan Indonesia Pramoedya Ananta Toer, menjadikan kualitas novel ini tak terbantahkan.

Prestasinya mentereng, di beberapa kesempatan novel Bumi Manusia menyabet banyak penghargaan. Baik berupa penghargaan individu yang dianugerahkan untuk pengarangnya, maupun apresiasi untuk novel ini sendiri.

Novel ini pertama kali terbit pada tahun 1980. Kemudian, setahun berselang, pada tahun 1981 terbit novel kedua Pramoedya yang berjudul Anak Semua Bangsa. kedua novel ini diterbitkan oleh penerbit Hasta Mitra.

Baca Juga: Kenapa Kuma Tidak Langsung Teleportasi ke Egghead dan Terhenti di Mariejoa? Ternyata Ini Kekuatan Kuma

Sebuah penerbitan yang dibagun oleh teman-teman Pramoedya semasa itu. Hasta Mitra dibesut oleh Joesoef Ishak, Hasjim Rachman dan Pramoedya Ananta Toer sendiri.

Novel karya Pramoedya ini termasuk buku fiksi dengan genre drama history. Novel fiksi ini mengisahkan lanskap kolonialisme Belanda di tanah jajahanya Hindia, yang miskin dan feodal.

Novel Bumi Manusia merupakan sekuel dari tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer: Bumi manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Semua karya ini ditulis Pramoedya sewaktu berada di Pulau Buru selama 14 tahun. Dalam periode yang panjang Pramoedya harus menghabiskan waktu di pulau itu akibat menjadi korban politik Orde Baru.

Setelah kebebasannya pada 1979 terbit karya pertamanya di tahun 1980. Pada tahun yang sama karyanya harus dicekal oleh pemerintah. Dekade ini merupakan masa yang kelam bagi karya-karya Pramoedya.

Baca Juga: Prediksi One Piece Chapter 1093 Sudah Trending di Twitter, Bagaimana Nasib Kizaru?

Sentimen mengenai latar belakangnya menjadi alasan. Dirinya kerap dianggap kiri yang menjadikan karyanya dicekal dan dilarang terbit. Pada tahun 1980 sampai 1981 karyanya Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa mendapat imbas. Keduanya harus dicekal oleh Kejaksaan Negeri RI karena dituduh memuat Marxisme-Leninisme.

Kontroversi dan Prestasi Novel Fiksi Pramoedya Ananta Toer

Alasan pencekalan yang diterima oleh Pramoedya merupakan imbas intrik politik di Orde Lama. Ditambah polemiknya dengan seniman-seniman lain kala itu. Hal itu yang menjadikan posisi Pram tidak stabil.

Penolakan paling keras terhadap Pramoedya datang dari para penandatangan Manifes Kebudayaan. Menurut mereka masa lalu Pramoedya yang kelam tidak layak dianugerahi penghargaan. Terutama ketika Pramoedya memimpin Lekra.

Meskipun mendapat penolakan, tidak sedikit aktivis dan budayawan juga mendukung Pramoedya. Menimbang hal yang dituduhkan pada Pramoedya belum tentu benar. Juga kiprahnya yang memang layak mendapatkan anugerah tersebut.

Baca Juga: Law dan Kid Hancur di Tangan Musuh, Apakah Luffy akan Alami Hal yang Sama?

Kendati dicekal di negara sendiri karya-karya Pramoedya mendapat penerimaan luas di dunia internasional. Berikut beberapa prestasi yang pernah diraih Pramoedya.

Pada 1978 Pramoedya tercatat sebagai anggota kehormatan seumur hidup organisasi internasional para penulis P.E.N.
The Pen Freedom-to-write Award pada tahun 1988, dari PEN American Center, Amerika Serikat.

  • 1989 The Fund For Free Expression.
  • 1995 Wertheim Award.
  • 1995 Ramon Magsaysay Award.
  • 1996 UNESCO Madanjeet Singh Prize.
  • 1999 Doctor of Humane Letters, Chancellor's Distinguished Honor Award & Chevalier de l'Ordre des et des Lettres.
  • 2000 the Arts Award, New York Foundation, Fukuoka Cultural Grand Prize, The Norwegian Authors Union, Centenario Pablo Neruda.

Tidak hanya itu, karya yang menceritakan perjalanan Minke memperjuangkan Annelies juga hampir membawa Pramoedya mendapatkan penghargaan Nobel bidang sastra pada tahun 2005. Meskipun pada akhirnya anugrah itu tak kunjung datang padanya.

Sinopsis Novel Bumi Manusia

Novel Bumi Manusia menceritakan perjalanan seorang anak pribumi bernama Tirto Adi suryo atau Minke. Selama jalanya novel Tirto Adi Suryo akan menyandang nama Minke sebagai nama keduanya.

Nama ini dia peroleh ketika menempuh pendidikan di Hogere Burgerschool atau H.B.S di Surabaya. sebuah sekolah menengah untuk para warga Belanda dan juga elit priyayi Jawa.

Baca Juga: Nasib Kuma Disebut-Sebut Berakhir di Egghead, Buah Iblisnya Diwariskan ke Salah Satu Kru Topi Jerami

Lahir dari keluarga terpandang menjadikan kehidupan minke dipenuhi dengan kemudahaan. Dalam status sosial feodal Jawa Minke mendapatkan status yang tinggi.

Namun, nyatanya di sistem sosial kolonial Minke tak ubahnya seorang pribumi rendahan. Bahkan, belakangan Minke menyadari bahwa namanya itu merupakan nama alias yang rasis. Minke berasal dari kata monkey atau monyet. Meskipun demikian, minke tetaplah seorang anak priyai yang berbakat dan cerdas. Bahkan dia juga merupakan seorang penulis di surat kabar Belanda.

Novel Bumi manusia bercerita tentang upaya Minke untuk mendapatkan Annelies Mellema, seorang keturunan Pribumi dengan Belanda. Selama jalannya novel, Minke dan Annelies, kedua sudah menunjukan ketertarikan satu sama lain sejak awal.

Konflik cinta keduanya justru tidak begitu menonjol. Malahan, konflik yang dibangun pada novel ini adalah kondisi masyarakat feodal dan hukum kolonial yang mengekang keduanya. isu sosial, adat dan kebiasaan waktu itu menjadi akar permasalahan dari jalanya kisah asmara keduanya.

Kisah dari novel fiksi ini memperlihatkan perjuangan Minke dalam mengejar pendidikan tinggi. Serta hubunganya yang rumit dengan Annelies sekaligus dengan orang-orang di sekitarnya. terlebih Minke juga terlibat dalam pergerakan nasional Indonesia yang semakin tumbuh. kondisi ini menjadikan jalannya cerita semakin menarik untuk diikuti.

Nuansa drama history begitu kental, Pramoedya berhasil memotret pergerakan nasional waktu itu. Dengan menampilkan seorang pribumi bernama Minke dalam menemukan identitasnya. Seorang anak manusia yang bergulat dengan ramainya situasi politik dan sistem sosial kebudayaan pada zaman itu.

Bumi Manusia menggambarkan secara telanjang konflik sosial yang terjadi di antara dua kelompok sosial, Belanda dan Non belanda. Bahkan, novel fiksi ini juga menggambarkan kondisi ketidak adilan yang dialami oleh para tokoh didalam novel ini.

Novel ini sekaligus memberikan gambaran bagaimana sebuah zaman digerakan oleh seorang individu. Melalui narasi yang digambarkan secara apik, novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer ingin menyoroti tentang suatu identitas, hak asasi manusia, persoalan sosial yang kompleks.

Tokoh Novel Bumi Manusia

Novel Bumi Manusia terdiri dari perpaduan epik episode sejarah akhir abad-19 hingga awal abad-20. Kontek sosial politik menambah keseruan jalanya cerita. Ditambah intrik dari para karakter yang ada.

Dari para karakter ini alur novel menjadi menarik. Ditopang dengan penokohan yang kuat menjadikan peran tokoh di novel ini memegang peran penting. Menariknya, setiap karakter yang dihadirkan mewakili kondisi sosial pada masa itu. Berikut ini beberapa nama dari karakter di Bumi Manusia.

Minke ‘Tirto Adhi Suryo,’ merupakan tokoh utama dalam novel fiksi ini. seorang pemuda priyayi Jawa yang cerdas. Mendapatkan pendidikan Belanda menjadikan ia mempunyai pandangan yang berbeda dengan pemuda sesamanya. Minke menjadi narrator utama dalam jalanya novel Bumi Manusia. seluruh cerita dalam novel menggambarkan perjalanan hidupnya serta konflik yang dia lalui.

Annelies Mellema, merupakan seorang gadis yang memegang peran penting dalam jalanya novel. Kisah cintanya dengan Minke menjadikan novel ini semakin menarik, ditambah statusnya sebagai anak seorang Belanda menjadikan Annelies dipenuhi perasaan mencekam selama menjalin hubungan dengan Minke.

Nyai Ontosoroh, Seorang perempuan Jawa yang kuat dan penuh kebijaksanaan. Posisinya dalam novel ini merepresentasikan posisi seorang perempuan pribumi kala itu.

Dia terikat dalam status Jawa yang patriarki. Pernikahanya dengan ayah Annelis, Herman Mellema menjadikan Nyai Ontosoroh mempunyai kesempatan membaca dan belajar selayaknya orang Eropa. Hingga pada jalanya novel tokoh ini sangat berperan penting.

Robert Mellema, dalam karyanya Pram tidak terlalu banyak membincang tokoh ini. meskipun ia merupakan kakak dari Annelies. Posisinya dalam novel secara umum menggambarkan bagaimana psikologis seseorang melihat pribumi seperti Meinke.

Robert sama seperti peranakan Belanda lain di Hindia, mereka melihat status pribumi menempati status sosial bawahan. Hal itu terlihat setiap kali bertemu dengan Minke.

Jean Marais, “Kau terpelajar, Minke. Seorang terpelajar harus juga belajar berperilaku adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan. Itulah arti memang terpelajar itu,” siapa yang tidak tahu kutipan ini. salah satu kutipan paling menggetarkan di novel Bumi Manusia.

Kutipan ini merupakan salah satu dialognya dengan Minke. Marais merupakan teman dekat dari Minke dalam alur novel Bumi Manusia. Seorang pelukis Eropa yang terdampar di Hindia. Marais juga kerap ditampilkan sebagai seorang tokoh yang bijak dan berwawasan luas. Salah satu pesan nya kepada Minke menjadi sebuah pesan yang dalam.***