BEKASI.POJOKSATU.ID - Rasanya yang gurih dan aromanya yang khas membuat nasi uduk menjadi salah satu menu favorit banyak orang.
Kuliner khas Betawi ini kerap dipilih sebagai sarapan karena mengenyangkan, mudah ditemukan, dan harganya relatif terjangkau.
Namun di balik kelezatannya, ada sejumlah risiko kesehatan yang perlu diwaspadai jika nasi uduk dikonsumsi setiap hari.
Baca Juga: Bukan Kesepian, Ini Alasan Pria Betah Ngopi Sendirian di Cafe Menurut Psikologi
Dokter spesialis gizi Johanes Chandrawinata mengingatkan bahwa konsumsi nasi uduk secara rutin dalam jangka panjang berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan, terutama jika porsinya tidak terkontrol.
“Orang Indonesia sering mengonsumsi nasi sampai satu piring muncung. Itu tidak baik dari segi kesehatan karena nanti menambah risiko terjadinya asupan kalori yang berlebihan,” ujarnya.
Nasi uduk dibuat dari beras putih yang dimasak dengan santan, sehingga kandungan kalorinya relatif tinggi. Dalam satu porsi nasi uduk tanpa lauk saja, kalorinya bisa mencapai sekitar 150 kalori.
Baca Juga: FC Bekasi City Menang Besar, Tri Adhianto: Saatnya Warga Bekasi Kompak Dukung Klub
Angka ini akan meningkat signifikan ketika ditambah lauk seperti telur, ayam goreng, bihun, tempe orek, hingga aneka gorengan, yang bisa membuat total kalori mencapai 250 kalori atau lebih.
Konsumsi berlebih tentu berisiko menyebabkan kenaikan berat badan.
Selain itu, beras putih memiliki indeks glikemik yang cukup tinggi, yakni sekitar 64.
Baca Juga: Perjalanan Politik Ono Surono, Dari Koperasi Nelayan hingga Sorotan KPK
Angka ini menunjukkan seberapa cepat karbohidrat diubah menjadi gula darah.
Konsumsi nasi uduk setiap hari dapat menyebabkan lonjakan gula darah yang cepat, sehingga meningkatkan risiko resistensi insulin dan diabetes tipe 2, terutama pada mereka yang memiliki faktor risiko.
Santan yang menjadi ciri khas nasi uduk juga menyimpan potensi masalah. Kandungan lemak jenuh dalam santan tergolong tinggi.
Dalam sekitar 300 mililiter santan, terkandung hingga 90 persen lemak jenuh dari kebutuhan harian.
Jika dikonsumsi berlebihan, lemak jenuh dapat meningkatkan kadar kolesterol dalam darah dan berisiko memicu penyakit jantung.
Baca Juga: Dari Kopi hingga WiFi Kencang, Ini Spot WFC Strategis di Sekitar LRT Jakarta Selatan
Tak hanya itu, santan dan makanan berlemak juga bisa memicu gangguan pencernaan.
Kandungan lemak dan serat tertentu dapat meningkatkan produksi gas di usus dan membuat tinja sulit mengental.
Akibatnya, sebagian orang bisa mengalami diare jika terlalu sering mengonsumsi nasi uduk.
Lauk pendamping nasi uduk juga tak kalah penting untuk diperhatikan.
Baca Juga: Dari Kopi hingga WiFi Kencang, Ini Spot WFC Strategis di Sekitar LRT Jakarta Selatan
Bihun goreng, gorengan, dan lauk berminyak lainnya berpotensi mengganggu keseimbangan mikrobioma usus.
Padahal, mikrobioma berperan penting dalam pencernaan, imunitas, dan pengendalian peradangan.
Ketidakseimbangan mikroba usus dapat membuat tubuh lebih rentan terhadap berbagai gangguan kesehatan.
Baca Juga: Empat Remaja Yang Ingin Melakukan Aksi Tawuran Di Ringkus Polisi
Efek lainnya yang kerap tak disadari adalah masalah kulit.
Makanan berlemak dan berindeks glikemik tinggi dapat memicu lonjakan gula darah, meningkatkan inflamasi, dan produksi sebum, yang pada akhirnya berkontribusi pada munculnya jerawat.
Meski demikian, bukan berarti nasi uduk harus dihindari sepenuhnya. Kuncinya terletak pada frekuensi dan porsi.
Mengombinasikan menu harian dengan sayur, buah, protein rendah lemak, serta variasi sumber karbohidrat dapat membantu menjaga keseimbangan gizi dan kesehatan jangka panjang.***




