BEKASI.POJOKSATU.ID - Menjelang waktu berbuka puasa di bulan Ramadhan, suasana jalanan di berbagai kota di Indonesia berubah drastis.
Deretan lapak dadakan bermunculan di pinggir jalan, aroma gorengan menguar menggoda, dan antrean pembeli memadati trotoar.
Fenomena ini populer disebut “war takjil”, tradisi berburu makanan berbuka yang selalu dinanti setiap tahun.
War takjil bukan sekadar aktivitas membeli makanan, tetapi telah menjadi bagian dari budaya Ramadhan di Indonesia.
Baca Juga: Plt Bupati Bekasi Sambut Dandim Baru, Tekankan Keamanan dan Iklim Investasi
Di momen inilah denyut ekonomi masyarakat kecil terasa begitu hidup. Pedagang musiman bermunculan, menawarkan aneka hidangan manis dan gurih yang siap disantap saat azan Maghrib berkumandang.
1. Aneka Gorengan
Di antara beragam pilihan, gorengan tetap menjadi primadona yang sulit tergantikan.
Bakwan, tahu isi, tempe mendoan, hingga pisang goreng hampir tak pernah sepi pembeli.
Praktis, murah, dan mengenyangkan menjadi alasan utama gorengan selalu laris manis.
Dalam buku Fiqih Puasa karya Ahmad Sarwat dijelaskan bahwa berbuka dengan makanan sederhana dianjurkan sebelum melanjutkan makan besar.
Baca Juga: Dari TMMD hingga Jalan Desa, Ini Warisan Nyata Dandim Lama untuk Warga Kabupaten Bekasi
Gorengan pun kerap menjadi pilihan cepat untuk sekadar mengganjal perut.
Meski begitu, ahli gizi mengingatkan agar konsumsi gorengan tidak berlebihan karena kandungan lemaknya cukup tinggi.
Artinya, menikmati gorengan saat berbuka sah-sah saja, tetapi tetap perlu bijak agar tidak mengganggu kesehatan.
2. Ragam Olahan Kolak
Selain gorengan, kolak menjadi ikon Ramadhan yang hampir tak pernah absen.
Kolak pisang, kolak ubi, hingga kolang-kaling dengan kuah santan dan gula merah menghadirkan cita rasa manis yang khas.
Dalam Sejarah Kuliner Nusantara karya Fadly Rahman disebutkan bahwa kolak merupakan adaptasi kuliner lokal yang melekat dengan tradisi Ramadhan karena bahan-bahannya mudah didapat dan kaya energi.
Tak heran, kolak sering kali habis lebih dulu di lapak-lapak takjil.
3. Es & Sop Buah
Minuman dingin juga menjadi incaran utama setelah lebih dari 12 jam menahan haus.
Baca Juga: Empat Program Pemberdayaan Pertamina Regional JBB Sabet Penghargaan di Yogyakarta
Es buah, sop buah, dan es blewah dengan sirup merah yang mencolok seakan menjadi simbol sore Ramadhan.
Kandungan cairan dan gula alami dari buah membantu tubuh memulihkan hidrasi secara bertahap saat berbuka.
Warna-warni buah segar yang tersaji dalam wadah transparan selalu berhasil menarik perhatian pembeli.
4. Es Pisang Ijo
Tak hanya itu, es pisang ijo dari Makassar kini semakin populer di berbagai daerah.
Pisang raja yang dibalut adonan hijau, disajikan bersama bubur sumsum, sirup merah, dan es serut, menawarkan perpaduan rasa manis dan tekstur lembut yang mengenyangkan.
Baca Juga: Selain Zakat Fitrah, Baznas Bekasi Tetapkan Fidyah Rp60.000 per Hari
Menu ini sering dipilih sebagai pengganjal sebelum melaksanakan salat Maghrib.
5. Lontong Isi
Bagi pecinta rasa gurih, lontong isi dan arem-arem menjadi pilihan andalan.
Isian oncom atau ayam yang padat membuatnya cocok bagi mereka yang kurang menyukai makanan manis.
Praktis dibawa pulang dan cukup mengenyangkan, lontong sering diborong bersamaan dengan gorengan untuk menciptakan kombinasi rasa gurih yang pas.
6. Bubur Sumsum
Menu tradisional seperti bubur sumsum, candil, dan biji salak juga tak kalah diminati.
Teksturnya yang lembut dianggap lebih ramah untuk lambung kosong setelah seharian berpuasa.
Dalam tradisi kuliner Jawa, hidangan berbasis santan dan gula merah kerap disajikan pada momen penting, termasuk bulan puasa.
Baca Juga: Tak Mau Berlarut, Dirut PT Mitra Patriot Percepat Penyelesaian Konflik dan Siapkan Audit Total
7. Bubur Kampiun Khas Minang
Bubur kampiun khas Minang menjadi pilihan bagi mereka yang menyukai variasi dalam satu sajian.
Campuran bubur sumsum, ketan hitam, candil, dan kolak menghadirkan rasa yang kompleks sekaligus mengenyangkan.
Kekayaan rasa ini menunjukkan betapa beragamnya tradisi takjil di Nusantara.
8. Es Timun Suri
Tak ketinggalan, es timun suri menjadi buah musiman yang selalu diburu saat Ramadhan.
Baca Juga: Bekasi Jadi Titik Awal Safari Ramadhan NasDem 2026, Tur 20 Hari Keliling Pulau Jawa Dimulai Hari Ini
Teksturnya yang lembut dan rasa segarnya cocok dipadukan dengan sirup cocopandan serta es batu.
Setiap tahun, kehadiran timun suri seakan menjadi penanda datangnya bulan suci.
Di balik kemeriahan war takjil, ada makna spiritual yang tidak boleh dilupakan.
Rasulullah SAW menganjurkan berbuka secukupnya sebelum melanjutkan ibadah.
Dalam Surah Al-Baqarah ayat 185 disebutkan bahwa Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an.
Artinya, esensi berbuka bukan pada banyaknya makanan, melainkan pada kesederhanaan dan pengendalian diri.
War takjil memang menghadirkan keceriaan tersendiri setiap sore Ramadhan.
Ia menjadi cerminan budaya, kebersamaan, sekaligus penggerak ekonomi rakyat kecil.
Namun di atas semua itu, bulan suci tetaplah momentum untuk meningkatkan ketakwaan dan menjaga keseimbangan antara tradisi dan nilai spiritual.
Dari semua menu takjil paling laris ini, setiap orang tentu memiliki favoritnya masing-masing.
Namun satu hal yang pasti, aroma gorengan dan manisnya kolak akan selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari cerita Ramadhan di Indonesia.***




