BEKASI.POJOKSATU.ID - Intensitas hujan yang tinggi dan pola cuaca yang semakin tidak menentu menjadi faktor utama meningkatnya bencana hidrometeorologi di Kabupaten Bekasi.
Dalam satu bulan terakhir, wilayah ini mengalami rangkaian banjir, longsor, dan angin kencang yang mencerminkan dampak nyata perubahan iklim di tingkat lokal.
Plt Bupati Bekasi, dr. Asep Surya Atmaja, menyebut tekanan terhadap sistem sungai dan ketahanan tanggul meningkat signifikan akibat kombinasi curah hujan tinggi dan kiriman debit air dari wilayah hulu.
Baca Juga: Banjir Bekasi Tinggalkan Dampak Besar, 23.687 KK Terdampak dalam Sebulan
Kondisi tersebut diperparah oleh dinamika perubahan tata guna lahan di daerah aliran sungai.
“Kiriman air dari hulu sangat besar, hujan di wilayah kita juga terjadi terus-menerus, sementara di hilir air tidak tertampung secara optimal,” ujar Asep dalam rapat koordinasi penanganan tanggul, Rabu 4 Februari 2026.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi mencatat bencana hidrometeorologi terjadi di 112 titik sepanjang Januari hingga awal Februari 2026.
Baca Juga: Tri Adhianto Satukan Fesyen, UMKM, dan Sport City untuk Dongkrak Daya Saing Bekasi
Dampaknya, sebanyak 23.687 kepala keluarga terdampak banjir, dengan 755 kepala keluarga sempat mengungsi akibat rumah terendam atau berada di zona rawan.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bekasi, Muchlis, menjelaskan bahwa karakter bencana kali ini lebih kompleks dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“Dalam satu bulan terakhir, kami menangani banjir, longsor, dan angin kencang secara bersamaan. Ini menunjukkan pengaruh cuaca ekstrem yang cukup kuat,” kata Muchlis.
Baca Juga: Stasiun Bekasi Ditata Ulang, PKL Ditertibkan, Warga Dijanjikan Kawasan Lebih Nyaman
Ia menambahkan, curah hujan yang tinggi dalam durasi panjang menyebabkan tanah menjadi jenuh air, sehingga memicu longsor di wilayah perbukitan seperti Bojongmangu dan Serang Baru.
Sementara di wilayah hilir, banjir semakin parah akibat debit sungai yang meningkat dan terhambat pasang laut.
Fenomena ini turut mendapat perhatian Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB, Raditya Jati, menilai Kabupaten Bekasi termasuk daerah dengan risiko banjir sangat tinggi secara nasional, dipengaruhi kondisi geografis dan perubahan iklim yang memperkuat intensitas hujan.
“Perubahan iklim membuat pola hujan makin ekstrem. Penanganan darurat penting, tetapi tidak bisa dijadikan solusi jangka panjang,” ujarnya.
Baca Juga: Pergerakan Tanah Rusak Rumah Warga di Bekasi, BPBD Tegaskan Ini Tanggung Jawab Pengembang
BNPB mendorong penguatan mitigasi melalui perbaikan tanggul, normalisasi sungai, penataan ruang, serta sistem peringatan dini yang lebih adaptif terhadap dinamika cuaca.
Rangkaian bencana yang terjadi menjadi peringatan bahwa cuaca ekstrem bukan lagi anomali, melainkan pola baru yang harus diantisipasi.
Tanpa adaptasi kebijakan dan infrastruktur yang memadai, risiko bencana hidrometeorologi di Bekasi diperkirakan akan terus meningkat seiring perubahan iklim yang kian nyata.***




