BEKASI.POJOKSATU.id - Ribuan massa Partai Buruh Jawa Barat berkumpul di Stadion Mini Cikarang, Kabupaten Bekasi, Sabtu, 23 September 2023.
Massa membuat stadion menjadi oranye. Semakin hari beranjak siang, semakin banyak massa yang datang.
Kehadiran Presiden Partai Buruh Said Iqbal membuat gelora massa semakin semangat di tengah terik matahari.
Baca Juga: Partai Buruh Jawa Barat Yakin 9 Caleg Masuk Senayan
Said Iqbal menjelaskan kegiatan tersebut adalah roadshow 38 provinsi di Jawa Barat. Konsolidasi akbar itu merupakan awal menuju kampanye pemenangan Partai Buruh.
Dia menargetkan minimal pada Pileg 2024, Partai Buruh diharapkan mendapat 20 sampai 30 kursi DPR RI, DPRD Provinsi 100 kursi, dan DPRD Kabupaten Kota 700 kursi.
"Target parlementary threshold kita 6,27 juta orang. Untuk di Jawa Barat kita menargetkan 7 sampai 9 kursi DPR RI, DRPD Provinis 50 sampai 60 kursi dan Kabupaten Kota bisa di angka 100-150 kursi," ucap dia.
"Kalau melihat populasi buruh di Jawa Barat sangat realistis. Semua serikat buruh di Indonesia, di Jawa Barat semua bergabung," sambung dia.
Satu hal yang membuat Said Iqbal yakin selain populasi buruh yang mencapai 10 juta di Jawa Barat, adalah isu yang segmented dan data populasi buruh yang terukur.
Baca Juga: Partai Buruh Jawa Barat Tidak Kampanye, Tapi Ajak Pendiri Kembali
"Ingat, buruh itu iuran, mereka teregistrasi di serikat, jadi by name by address ada. Dan isu Partai Buruh sangat segmented seperti tolak upah murah, reforma agraria, hapus outsourcing," kata dia yang juga mejabat sebagai governing body International Labour Organisation (ILO).
"Jawa Barat adalah basis Partai Buruh. Polandia punya Gdansk oleh Lech Walesa, Lula da Silva di Brazil ada Porto Alegre, Indonesia punya Jawa Barat. Jawa Barat adalah kunci pemenangan Partai Buruh," sambung dia.
Iqbal menjelaskan Partai Buruh menawarkan program terkait kepastian kerja (job security), kepastian upah (income security) dan juga jaminan sosial (social security) kepada konstituen yang berasal dari golongan kelas pekerja, seperti buruh formal, petani, nelayan, miskin kota, guru honorer, dan lainnya.***




