CIKARANG, BEKASI.POJOKSATU.id - Bekasi tidak hanya dikenal sebagai kawasan industri yang padat dan modern, tetapi juga menyimpan jejak sejarah keberagaman budaya yang amat kaya.
Di tengah pesatnya pembangunan kawasan Cikarang, berdiri kokoh Kelenteng Tek Seng Bio sebagai bagian dari kawasan kampung kelenteng. Tempat ibadah ini tidak sekadar menjadi pusat spiritual bagi umat Buddha dan Konghucu, melainkan simbol hidup dari kerukunan antarumat beragama serta akulturasi budaya Tionghoa Pasundan yang telah mengakar selama bertahun-tahun.
Jejak Sejarah Awal dan Berdirinya Kelenteng
Menguak sejarahnya, Kelenteng Tek Seng Bio diperkirakan telah berdiri sejak pertengahan abad ke-19 (sekitar tahun 1850-an). Keberadaannya berkaitan erat dengan gelombang migrasi warga keturunan Tionghoa yang bermukim di sepanjang aliran sungai serta pusat-pusat perdagangan lama di Cikarang.
Nama Tek Seng Bio sendiri secara harfiah mengandung makna filosofis yang mendalam: Tek berarti Kebajikan, Seng berarti Suci atau Bijaksana, dan Bio berarti Rumah Ibadah. Secara keseluruhan, nama ini dapat diartikan sebagai "Wadah Suci untuk Menyebarkan Kebajikan".
Sejak awal sejarah keberadaannya, kelenteng ini didirikan tidak hanya sebagai sarana penghormatan kepada para dewa pelindung dan leluhur, tetapi juga sebagai benteng budaya dan tempat bernaung bagi komunitas Tionghoa-Tambun/Cikarang dalam menyesuaikan diri dengan tata kehidupan masyarakat lokal.
Bangunan ini menampilkan arsitektur khas Tionghoa dengan ornamen berwarna merah menyala dan emas, ukiran naga yang megah, serta lampion-lampion yang menghiasi sudut pilar. Setiap detail arsitekturnya mencerminkan nilai-nilai filosofis tentang kedamaian, kemakmuran, dan penghormatan terhadap leluhur.
Salah satu daya tarik utama dari Kelenteng Tek Seng Bio adalah kuatnya nilai toleransi yang tercipta di lingkungan sekitarnya. Pada momen-momen besar keagamaan dan kebudayaan seperti perayaan Tahun Baru Imlek, Cap Go Meh, maupun ritual tahunnya, kelenteng ini selalu menjadi pusat perhatian masyarakat luas.
Menariknya, interaksi yang terjalin tidak hanya melibatkan umat yang beribadah, tetapi juga warga sekitar dari berbagai latar belakang suku dan agama. Perayaan tradisi Tionghoa di vihara sering kali dimeriahkan oleh atraksi Barongsai dan Liang Liong yang dinikmati oleh anak-anak hingga orang dewasa sebagai sarana hiburan rakyat. Suasana gotong royong dan saling menghormati antara pengurus vihara dengan warga setempat menegaskan reputasi Cikarang sebagai wilayah yang ramah dan inklusif.
Merawat Tradisi di Tengah Modernisasi Cikarang
Di tengah laju modernisasi Kota Industri Cikarang, Kelenteng Tek Seng Bio konsisten menjalankan fungsinya sebagai wadah pelestarian warisan tradisi.
Selain kegiatan sembahyang harian dan mingguan, vihara ini rutin mengadakan aksi sosial, seperti pembagian paket sembako dan pengobatan gratis bagi warga kurang mampu di sekitar lingkungan kelenteng.
Mengenal dan menyaksikan langsung dinamika kehidupan di Kelenteng Tek Seng Bio memberikan kita perspektif baru tentang Bekasi. Rumah ibadah bersejarah ini membuktikan bahwa perbedaan budaya dan keyakinan bukanlah sekat, melainkan kekayaan sosial yang memperkuat jati diri warga Bekasi dalam bingkai kebhinekaan.




