BEKASI.POJOKSATU.ID - Banjir besar yang melanda Desa Srimukti dan Desa Sriamur, Kecamatan Tambun Utara, Kabupaten Bekasi, kembali menyoroti lemahnya sistem antisipasi dan kesiapsiagaan bencana.
Meski sebagian warga mengaku sudah waspada sejak hujan deras mengguyur kawasan tersebut, luapan Sungai Cikarang Bekasi Laut (CBL) datang lebih cepat dari perkiraan dan tanpa peringatan dini yang efektif.
Banjir mulai masuk ke permukiman warga pada dini hari, saat sebagian besar warga masih tertidur.
Kondisi ini membuat banyak keluarga panik dan tidak memiliki cukup waktu untuk menyelamatkan harta benda maupun mempersiapkan diri menghadapi banjir.
Air dilaporkan naik dengan cepat hanya dalam hitungan jam, memaksa ratusan warga meninggalkan rumah mereka.
Salah satu warga terdampak, Aang (42), mengatakan bahwa meski warga sudah waspada sejak malam.
Tidak ada informasi atau peringatan jelas mengenai potensi banjir besar yang akan terjadi. Akibatnya, banjir datang di luar perkiraan.
"Jam 3 pagi kita sudah waspada karena hujan deras, tapi jam 5 air sudah naik. Jam 6 kita sudah harus keluar rumah. Airnya datang cepat sekali, lebih cepat dari banjir tahun lalu," ujar Aang.
Menurutnya, tidak adanya peringatan dini yang memadai membuat warga kesulitan melakukan evakuasi secara terencana.
Banyak warga hanya bisa menyelamatkan diri dengan pakaian yang melekat di badan.
Barang-barang berharga, perabot rumah, hingga kendaraan terpaksa ditinggalkan karena arus air sudah terlalu deras.
Banjir yang datang saat subuh ini juga memperparah kondisi psikologis warga, terutama anak-anak dan lansia.
Dalam situasi gelap dan hujan masih turun, warga harus berjalan menembus genangan air untuk mencari tempat aman, seperti pinggir jalan dan bangunan umum.
Kondisi tersebut memunculkan harapan agar pemerintah daerah segera memperbaiki sistem mitigasi bencana, khususnya terkait peringatan dini banjir.
Warga menilai, informasi potensi luapan sungai dan kenaikan debit air seharusnya dapat disampaikan lebih cepat dan mudah diakses oleh masyarakat di wilayah rawan banjir.
"Kalau ada peringatan lebih awal, kita bisa siap-siap dari malam. Minimal angkat barang, siapin anak-anak. Ini benar-benar mendadak," ucap Aang.
Selain peringatan dini, warga juga berharap adanya langkah jangka panjang seperti normalisasi sungai, peninggian tanggul, serta perbaikan drainase di kawasan permukiman.
Tanpa sistem mitigasi yang lebih baik, warga khawatir banjir serupa akan terus terulang setiap musim hujan.
Banjir Tambun Utara kali ini menjadi pengingat bahwa kewaspadaan warga saja tidak cukup.
Dibutuhkan sistem kesiapsiagaan bencana yang terintegrasi dan responsif agar risiko dan dampak banjir dapat diminimalkan, serta keselamatan warga lebih terjamin.***




