BEKASI.POJOKSATU.ID - Aksi mogok berjualan pedagang daging sapi selama tiga hari di Jabodetabek memicu dampak ekonomi serius bagi sektor usaha kecil, khususnya pedagang bakso di Kabupaten Bekasi.
Ribuan pedagang terancam tidak bisa beroperasi akibat kelangkaan pasokan daging sapi, bahan baku utama usaha mereka.
Ketua Umum Paguyuban Pedagang Mie dan Bakso (Papmiso), Bambang Haryanto, menyebut dampak mogok pedagang daging sudah dirasakan sejak hari pertama.
Baca Juga: Ratusan Pedagang Daging Bekasi Mogok Massal, Pasar Baru Jadi Simbol Perlawanan
Banyak pedagang bakso yang datang ke pasar dengan harapan bisa menggiling daging, namun terpaksa pulang tanpa membawa bahan baku.
"Dampak dari aksi mogok pedagang daging ini, tadi banyak pedagang bakso yang ke pasar namun tidak ada daging segar. Akhirnya mereka kembali lagi, tidak jadi menggiling," ujar Bambang, Kamis 22 Januari 2026.
Papmiso mencatat, di Kabupaten Bekasi terdapat sekitar 2.000 pedagang bakso yang bergantung penuh pada pasokan daging sapi segar setiap hari.
Baca Juga: Kabag Kesra Pemkab Bekasi Meninggal Dunia di Tol Cipularang
Jika seluruh pedagang tersebut berhenti berjualan, potensi kerugian ekonomi diperkirakan mencapai Rp2 miliar per hari dari perputaran bisnis bakso.
"Artinya kalau teman-teman sudah tidak memiliki stok bakso, pasti hari ini tidak berjualan. Potensi kerugian per hari itu hampir Rp2 miliar hanya di Bekasi," jelas Bambang.
Dampak ekonomi tidak hanya terjadi di tingkat lokal. Secara nasional, Papmiso mencatat terdapat sekitar 20 ribu pedagang mie dan bakso.
Baca Juga: Warga Kali Ulu Datangi Marketing Gallery Cinity, Sampaikan Protes Soal Banjir
Jika kondisi serupa terjadi secara merata, potensi kerugian ekonomi nasional bisa menembus angka Rp20 miliar per hari.
Bambang mengungkapkan, kondisi ini membuat pedagang bakso berada dalam posisi sulit.
Di satu sisi mereka kehilangan pemasukan, namun di sisi lain tetap harus menanggung biaya operasional, termasuk gaji karyawan.
“Beberapa karyawan yang dirumahkan tetap harus dikasih makan dan gaji. Kalau sampai tiga hari penuh, dampaknya akan jauh lebih parah,” katanya.
Sementara itu, Ketua Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) Kabupaten Bekasi, Sadimin, menjelaskan mogok berjualan merupakan keputusan pengurus pusat sebagai bentuk protes atas tingginya harga sapi hidup.
Baca Juga: Pemprov Jabar Optimistis Pilkades Digital 2026 di Bekasi Berjalan Transparan dan Partisipatif
Saat ini harga sapi hidup mencapai sekitar Rp55 ribu per kilogram, sehingga harga daging eceran melonjak di atas Rp150 ribu per kilogram.
“Kalau di bawah itu, pedagang pasti rugi. Harga sudah tidak masuk akal, daya beli masyarakat juga turun,” tandas Sadimin.
Papmiso berharap pemerintah segera turun tangan dan mengambil langkah konkret untuk menstabilkan harga daging sapi.
Menurut Bambang, tanpa intervensi kebijakan yang cepat dan tepat, mogok pedagang daging berpotensi memicu krisis berkelanjutan yang merugikan ekonomi rakyat kecil dan UMKM kuliner di berbagai daerah.***




