BEKASI.POJOKSATU.id - Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas), mengajak masyarakat Kota Bekasi membiasakan memilah sampah sejak dari rumah sebagai langkah mendasar dalam mengatasi persoalan sampah yang semakin kompleks.
Menurut Zulhas, pemilahan sampah dari sumber menjadi bagian penting dalam sistem pengelolaan sampah terpadu karena dapat mengurangi jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) sekaligus mempermudah proses pengolahan berikutnya.
"Memilah sampah sejak dari sumbernya merupakan langkah sederhana namun sangat penting. Sampah yang sudah dipilah akan memudahkan proses selanjutnya," ujar Zulhas, Kamis, 27 Agustus 2026.
Pernyataan tersebut disampaikan saat menghadiri Apel Gebrak Pilah Sampah sekaligus peletakan batu pertama pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Kota Bekasi pada Rabu, 26 Agustus 2026.
Baca Juga: Ada Aksi 27 Agustus 2026, Situasi Kota Bekasi Disebut Kondusif
Apel tersebut diikuti lebih dari 2.000 peserta. Dalam kesempatan itu, Zulhas mengajak masyarakat menjadikan kebiasaan memilah sampah sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari, bukan sekadar gerakan sesaat.
Ia menilai, penyelesaian persoalan sampah di Kota Bekasi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Menurutnya, pembangunan fasilitas pengolahan sampah saja tidak cukup apabila tidak dibarengi perubahan perilaku masyarakat.
"Kalau pemilahan dilakukan secara konsisten, volume sampah yang diangkut ke TPA akan jauh berkurang," katanya.
Zulhas menjelaskan, pemilahan sampah dari rumah merupakan upaya penanganan di sektor hulu yang harus berjalan seiring dengan penguatan sistem pengolahan di sektor hilir.
Saat ini, Kota Bekasi menghasilkan sekitar 1.800 ton sampah setiap hari. Jumlah tersebut menjadi tantangan besar dalam pengelolaan sampah, terutama dengan keberadaan timbunan sampah di kawasan TPA Bantargebang.
Menurut Zulhas, persoalan sampah di Bekasi bahkan sempat menjadi sorotan dunia akibat dampak pencemaran gas metana.
"Kita harus segera menyelesaikan persoalan ini. Kita koordinasikan agar semua bergerak cepat, tidak boleh lagi masyarakat hidup dalam lingkungan yang tercemar udara, tanah, dan air akibat sampah yang tidak terkelola," ujarnya.
Ia menambahkan, gerakan memilah sampah sebelumnya juga telah dilaksanakan di Bandung Raya dengan melibatkan sekitar 4.000 peserta. Sementara di Bekasi, kegiatan serupa diikuti lebih dari 2.000 orang.
Zulhas berharap gerakan tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi budaya baru yang diterapkan masyarakat secara berkelanjutan.
Di sisi lain, pemerintah juga terus memperkuat pengelolaan sampah melalui pembangunan PSEL Kota Bekasi yang mengusung teknologi waste to energy. Fasilitas tersebut ditargetkan mampu mengolah sekitar 1.500 ton sampah per hari atau sekitar 70 persen dari total timbulan sampah harian Kota Bekasi.
Ia menegaskan, penanganan sampah harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari hulu hingga hilir. Karena itu, perubahan perilaku masyarakat dalam memilah sampah sejak dari rumah menjadi fondasi penting untuk mendukung sistem pengelolaan yang lebih efektif.
Melalui gerakan tersebut, pemerintah berharap kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah semakin meningkat, sehingga persoalan sampah tidak lagi menjadi tanggung jawab pemerintah semata, melainkan menjadi tanggung jawab bersama.***




