BEKASI.POJOKSATU.id – Sekelompok anak-anak dari komunitas bermain Kidzperience berkesempatan mencoba simulator gempa di kantor Badan Penganggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bekasi, Sabtu, 4 Juli 2026.

Simulator gempa ini merupakan wahana terbaru yang dimiliki BPBD sejak Februari 2026. Sebagai salah satu sarana edukasi bagi pengunjung yang ingin merasakan sensasi langsung gempa bumi dengan kekuatan magnitudo 6 sampai 7, dan intensitas VIII MMI.

Sebelum mencoba langsung pengalaman tersebut, anak-anak diajak mengenal tentang gempa bumi. Fasilitator BPBD Kota Bekasi, Rinto Butar-Butar dan Levy, menyetel berbagai video dampak gempa bumi yang dapat dilihat langsung oleh peserta.

Kemudian, anak-anak diajak mengungkapkan pengalaman tentang gempa bumi. Salah seorang anak yang maju ke depan mengungkapkan pernah merasakan gempa bumi saat berada di wilayah Bekasi Timur.

Baca Juga: Ade Puspitasari Ajak Anggota PMR Kota Bekasi Bangun Karakter Lewat Pendidikan Demokrasi

Gempa memang pernah dirasakan cukup kuat oleh masyarakat Kota Bekasi dan Kabupaten Bekasi pada 20 Agustus 2025 dengan episentrum berada di wilayah Karawang dengan magnitudo 4,9.

Setelah itu, fasilitator memperagakan cara berlindung jika terjadi gempa. Beberapa anak-anak diminta memperagakan berbagai cara berlindung tanpa objek maupun menggunakan benda yang ada di sekitar. 

Salah seorang peserta, Andi Najma (6 tahun), diminta oleh Rinto melindungi bagian kepala dengan kedua tangannya. Posisi tangan harus dapat melindungi kepala bagian depan dan belakang agar terlindung dari reruntuhan. Kemudian anak lain, diminta melindungi diri dengan benda yang ada di sekitar ruangan saat gempa terjadi, misalkan buku, tas, bangku, dan meja.

Kemudian peserta lain diminta mengikuti cara melindungi diri tersebut. Fasilitator memberikan tanda bunyi dengan peluit. Saat peluit berbunyi, anak-anak diminta bersujud melindungi diri dari gempa. Inti dari perlindungan diri saat gempa di dalam ruangan adalah drop, cover, dan hold.

Saat beranjak ke ruangan simulator gempa, anak-anak tampak antusias. Peserta dibagi menjadi per 10 orang agar tidak terlalu berdesakan di dalam ruangan.

Sebelum guncangan dirasakan, fasilitator meminta orang dewasa yang mendampingi anak-anak untuk mengajak mereka berbincang untuk mengalihkan perhatian. Tak disangka, saat sedang berbincang, tiba-tiba ruangan itu berguncang. Persis skenario saat gempa terjadi.

Baca Juga: Wakil Wali Kota Bekasi Hadiri Rakernas XVIII APEKSI, Perkuat Kolaborasi dan Inovasi Pembangunan Kota

Beberapa anak langsung sigap bersujud melindungi kepala dengan posisi yang sudah diajarkan sebelumnya. Beberapa anak juga tampak kaget saat merasakan goncangan. Ada yang menangis karena takut dan ada yang tertawa karena merasa itu sebuah pengalaman yang seru.

Para orang tua yang mendampingi anak-anaknya juga diajak merasakan langsung sensasi gempa di ruang simulator gempa berukuran 

Wali Kota Bekasi Tri Adhianto saat meresmikan fasilitas ini beberapa waktu lalu mengatakan ri menegaskan bahwa edukasi kebencanaan terus diperluas dan tidak hanya berfokus pada penanganan bencana semata.

“Edukasi di BPBD tidak hanya lagi sebatas penanganan bencana alam, tetapi menjadi pusat pembelajaran bagi siswa maupun warga agar memiliki kemampuan tanggap darurat saat terjadi bencana. Ini tentang membangun budaya siaga sejak dini,” ujar dia.***