BEKASI.POJOKSATU.id – Di tengah upaya memperluas jejaring global dan meningkatkan daya saing daerah, Pemerintah Kota Bekasi memperkenalkan program One Day English bagi aparatur sipil negara (ASN).

Kebijakan ini mendorong penggunaan bahasa Inggris dalam aktivitas kerja sehari dalam satu hari tertentu setiap pekan.

Gagasan tersebut dipandang sebagai langkah progresif untuk membangun budaya komunikasi yang lebih adaptif di lingkungan birokrasi.

Namun di sisi lain, muncul pertanyaan mengenai kesiapan sumber daya manusia (SDM) dalam menjalankan program tersebut secara efektif.

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Bekasi, Wildan Fathurrahman, menilai program ini sebagai inovasi yang patut diapresiasi, terutama dalam konteks meningkatkan kapasitas komunikasi ASN di era global.

“Ini bisa menjadi pintu awal untuk mendorong kemampuan komunikasi yang lebih luas, apalagi jika Bekasi ingin tampil sebagai kota yang terbuka bagi dunia internasional,” ujar Wildan, Minggu 26 April 2026.

Menurutnya, kemampuan berbahasa asing, khususnya bahasa Inggris, memiliki korelasi dengan peningkatan daya tarik investasi.

Aparatur pemerintah yang mampu berkomunikasi secara global dinilai lebih siap menjalin interaksi dengan investor maupun mitra internasional.

Baca Juga : Tawuran Remaja di Bekasi Berhasil Digagalkan, 16 Pemuda Diamankan Polisi

Namun demikian, Wildan mengingatkan bahwa transformasi budaya kerja tidak bisa dilakukan secara instan.

Ia menyoroti adanya kesenjangan kompetensi di antara ASN, baik dari segi kemampuan bahasa maupun kesiapan mental dalam beradaptasi dengan pola komunikasi baru.

“Tidak semua ASN memiliki kemampuan yang sama. Ini yang harus dipetakan sejak awal agar implementasinya tidak timpang,” katanya.

Ia juga mengingatkan potensi program tersebut berhenti pada tataran simbolik jika tidak dibarengi dengan perencanaan yang matang. Tanpa pelatihan berkelanjutan serta evaluasi yang terukur, One Day English dikhawatirkan hanya menjadi slogan tanpa dampak signifikan terhadap kualitas pelayanan publik.

“Jangan sampai ini hanya menjadi gimmick. Harus ada keseriusan dalam implementasinya,” tegasnya.

Lebih jauh, Wildan mendorong agar penguatan kemampuan bahasa Inggris tidak hanya menyasar kalangan birokrasi, tetapi juga diperluas ke sektor pendidikan. Menurutnya, pembiasaan sejak dini menjadi kunci dalam membangun generasi yang siap bersaing di tingkat global.

Dengan demikian, program One Day English tidak sekadar menjadi kebijakan administratif, melainkan bagian dari arah pembangunan jangka panjang. Pertanyaannya kini, apakah Bekasi siap membangun fondasi tersebut secara konsisten, atau hanya berhenti pada upaya simbolik semata.***