BEKASI.POJOKSATU.ID - Genangan air setinggi 20 hingga 30 sentimeter kembali merendam ruas Jalan Jenderal Sudirman di sekitar kawasan SPBU Vivo, Kota Bekasi.
Hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut pada Senin 23 Februari 2026 bukan hanya memicu kemacetan panjang, tetapi juga menghadirkan risiko keselamatan dan potensi kerugian ekonomi bagi warga.
Ruas jalan nasional yang menjadi salah satu akses utama mobilitas masyarakat itu tergenang hingga membuat arus lalu lintas tersendat.
Baca Juga: Kerugian Tembus Rp1,1 Miliar! Longsor di Perbukitan Bojongmangu Hantam Rumah Warga dan Sekolah
Antrean kendaraan mengular sekitar 2 kilometer, dari depan SPBU Vivo hingga kawasan Taman Kota Bekasi.
Sejumlah sepeda motor tampak mogok setelah menerobos genangan, sementara pengendara lain terpaksa melintas perlahan di sisi kanan jalan yang lebih tinggi.
Kondisi tersebut tidak hanya menghambat perjalanan, tetapi juga berpotensi membahayakan pengguna jalan.
Baca Juga: Disdukcapil Kabupaten Bekasi Minta Warga Perbarui Data Jelang Pilkades Digital
Lubang di permukaan aspal yang tertutup air sulit terdeteksi, meningkatkan risiko tergelincir atau terjatuh, terutama bagi pengendara roda dua.
Di tengah arus kendaraan yang padat dan bergerak lambat, potensi kecelakaan semakin besar.
Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (BMSDA) Kota Bekasi, Idi Susanto, menjelaskan bahwa titik genangan berada di jalan nasional dengan permasalahan pada sistem saluran air, khususnya di bagian crossing yang kerap mengalami hambatan.
Baca Juga: Makna di Balik Logo HUT ke-29 Kota Bekasi: Harmoni Warna, Semangat Kolaborasi, dan Arah Masa Depan
“Jalan Jenderal Sudirman di dekat Vivo itu memang jalan nasional. Crossing-nya sering mampet, jadi setiap ada genangan kami selalu turunkan tim pematusan untuk membantu aliran air ke hilir,” kata Idi, dikutip dari Radar Bekasi, Senin 23 Februari 2026.
Menurutnya, kendala utama terdapat pada saluran air di bagian hilir yang berada di sekitar permukiman warga.
Hambatan tersebut membuat air tidak dapat mengalir optimal saat curah hujan tinggi.
“Di bawahnya itu ada kendala saluran di rumah warga, jadi kita sudah tahu permasalahannya. Tinggal menunggu anggaran dari pusat untuk membesarkan crossing dan penanganan di hilirnya,” jelasnya.
Sementara solusi permanen masih menunggu realisasi anggaran dari pemerintah pusat, penanganan sementara dilakukan dengan mengerahkan pompa mobile setiap kali genangan muncul.
Baca Juga: Resmob Polda Metro Jaya Ringkus Pelaku Pencurian Rp700 Ribu Milik Nenek Penjual Nasi Uduk di Bekasi
Namun langkah ini dinilai belum mampu sepenuhnya menghilangkan risiko yang timbul saat hujan deras turun.
Di lapangan, dampak ekonomi langsung dirasakan warga. Waktu tempuh yang biasanya singkat berubah menjadi berlipat ganda akibat kemacetan.
Keterlambatan masuk kerja, terganggunya distribusi barang, hingga potensi kerusakan kendaraan menjadi konsekuensi yang harus ditanggung pengguna jalan.
Baca Juga: Polres Metro Bekasi Kota Bagikan 500 Paket Takjil di Bekasi Utara
Salah satu pengendara, Firman Nasruli (32), mengaku frustrasi karena banjir di lokasi tersebut kerap berulang tanpa solusi permanen.
“Sudah sering banjir di sini, waktu itu sekitar sebulan lalu juga sama. Belum ada solusi,” keluhnya.
Ia berharap ada langkah konkret agar genangan tidak terus terjadi dan merugikan masyarakat.
Baca Juga: Jalan Raya Caringin Mustikasari Rusak Parah, Pengendara Khawatirkan Keselamatan
“Harapannya cepat ada solusi. Jangan sampai terus-terusan begini, bisa merugikan juga kalau telat kerja,” tandasnya.
Banjir di akses utama kota ini menunjukkan bahwa persoalan drainase bukan hanya soal genangan air atau kemacetan sesaat.
Di baliknya, ada risiko keselamatan dan kerugian produktivitas yang nyata.
Selama solusi struktural belum terealisasi, setiap hujan deras berpotensi kembali menghadirkan ancaman serupa bagi warga Kota Bekasi.***




