BEKASI.POJOKSATU.id – Proyek Double Double Track (DDT) Manggarai–Cikarang kembali disorot usai insiden di wilayah Bekasi Timur.

Jalur ganda ini dinilai jadi solusi utama untuk menekan risiko tabrakan kereta, khususnya di lintasan padat yang setiap hari dilintasi KRL dan kereta jarak jauh.

Mantan Komisaris PT KAI, Riza Primadi, menegaskan pemisahan jalur melalui DDT akan menghilangkan potensi kecelakaan antar kereta.

“Untuk serudukan antara KAJJ dan KRL saya 100 persen yakin tidak akan terjadi. Jalurnya beda, nggak bakal sejalur,” ujar Riza, Minggu 3 Mei 2026.

Menurut dia, persoalan utama selama ini ada pada penggunaan jalur yang sama oleh dua jenis kereta dengan karakter berbeda.

KRL berhenti di banyak stasiun, sementara kereta jarak jauh melaju lebih cepat dengan titik berhenti terbatas.

Kondisi ini kerap memicu potensi kereta jarak jauh mengekor KRL di depannya, terutama di lintasan sibuk seperti Bekasi.

Baca Juga : Pemkot Bekasi Perkuat Pengamanan Perlintasan hingga Flyover Bulak Kapal Selesai

“Nggak akan ada lagi cerita KAJJ di belakang KRL atau sebaliknya kalau jalurnya sudah dipisah,” katanya.

Riza menyebut proyek DDT Manggarai–Cikarang memang dirancang untuk mengurai persoalan tersebut. Namun hingga kini, pengerjaannya belum sepenuhnya rampung.

Selama jalur masih dipakai bersama, potensi gangguan perjalanan hingga risiko kecelakaan masih tetap ada.

“Makanya harus dipercepat. Ini solusi permanen untuk keselamatan perjalanan kereta, terutama di daerah padat seperti Bekasi,” tegasnya.

Sementara itu, pengamat transportasi Ki Darmaningtyas menilai pembangunan DDT bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak.

“Urgensinya jelas. Masing-masing kereta harus punya jalur sendiri,” ujarnya.

Ia berharap proyek DDT bisa segera dituntaskan agar perjalanan kereta di lintas padat lebih aman dan andal.

“Kalau DDT selesai, seharusnya gangguan seperti ini tidak terjadi lagi,” tandasnya.***