BEKASI.POJOKSATU.id - Debit air Kali Bekasi di kawasan Jalan Mayor Madmuin Hasibuan, Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur, mengalami penurunan seiring berlangsungnya musim kemarau.
Surutnya aliran air menyebabkan sebagian dasar sungai terlihat. Tumpukan sampah, endapan lumpur, hingga bebatuan yang sebelumnya tertutup air kini muncul di sejumlah titik.
Berdasarkan pantauan wartawan bekasi.pojoksatu.id di lokasi, berbagai jenis sampah seperti plastik, kayu, limbah rumah tangga, serta lumpur tampak mengendap di sepanjang aliran sungai.
Bahkan, di beberapa titik kedalaman air hanya mencapai lutut orang dewasa sehingga warga dapat berjalan hingga ke bagian tengah Kali Bekasi.
Baca Juga: DLH Kota Bekasi Selidiki Dugaan Pencemaran Kali Bekasi, Air Sungai Cileungsi Berubah Hitam
Sementara itu, kondisi berbeda terlihat di bagian hilir, tepat di bawah Bendung Bekasi. Debit air di kawasan tersebut masih relatif normal karena bendung berfungsi menahan cadangan air untuk kebutuhan irigasi dan pasokan air baku.
Salah seorang warga, Eman (50 tahun), mengatakan penurunan debit air mulai terlihat sekitar dua pekan terakhir dan merupakan kondisi yang hampir selalu terjadi saat musim kemarau.
"Ini mengering karena memang lagi kemarau. Tahun kemarin juga begini," ujarnya.
Menurut Eman, persoalan yang paling dirasakan warga bukan hanya menyusutnya debit air, tetapi juga munculnya aroma tidak sedap akibat limbah yang semakin tercium saat aliran sungai berkurang.
"Kalau kering biasanya muncul bau limbah. Sudah sekitar tiga hari ini baunya terasa," katanya.
Ia menduga bau menyengat tersebut berasal dari limbah yang dibuang ke sungai. Saat debit air rendah, limbah tidak terbawa arus sehingga aroma menjadi lebih menyengat.
Meski demikian, kebutuhan air warga hingga kini masih dapat terpenuhi. Namun, proses pengambilan air menjadi lebih lama karena debit sungai menurun.
Baca Juga: DLH Kota Bekasi Pantau Pengolahan Limbah di Bantargebang, Bau Menyengat Dilaporkan Berkurang
"Airnya jadi lebih susah diambil. Kami harus menampung lebih dulu dan waktunya lebih lama dibanding biasanya," jelasnya.
Eman juga mengungkapkan beberapa hari sebelumnya air Kali Bekasi sempat berubah warna menjadi hitam. Kondisi itu diduga dipicu pencemaran limbah dan menyebabkan sejumlah ikan mengalami keracunan.
"Kemarin airnya sempat hitam dan ikan-ikannya banyak yang mabuk. Tapi sekarang sudah mulai membaik," ungkapnya.
Warga berharap pemerintah bersama instansi terkait meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas pembuangan limbah ke Kali Bekasi, terutama selama musim kemarau.
Mereka menilai penurunan debit air membuat limbah lebih sulit terurai sehingga berpotensi mencemari lingkungan, menimbulkan bau, serta mengganggu ekosistem sungai.***




