BEKASI.POJOKSATU.ID - Amblesnya Jembatan Kampung Kramat di Kelurahan Setu, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, kembali menimbulkan dampak besar terhadap arus lalu lintas penghubung Jakarta Timur dan Kota Bekasi.

Jembatan yang menjadi akses vital antarwilayah itu tidak dapat dilintasi kendaraan setelah mengalami kerusakan pada Minggu 1 Maret 2026, memaksa pengendara mencari jalur alternatif yang lebih sempit dan padat.

Pantauan di lokasi menunjukkan lubang cukup dalam menganga di badan jembatan, membuat seluruh jenis kendaraan, baik roda dua maupun roda empat, tidak dapat melintas.

Baca Juga: Daftar Kota Tujuan Program Mudik Gratis Pertamina 2026

Akses ditutup menggunakan bambu serta garis pembatas berwarna kuning guna mencegah pengendara nekat melintas.

Penutupan jalur tersebut langsung berdampak pada kepadatan arus kendaraan, terutama pada jam-jam sibuk sore hari.

Pengendara dari arah Jakarta Timur menuju Bekasi maupun sebaliknya terpaksa memutar arah dan melewati jalan lingkungan yang kapasitasnya terbatas.

Baca Juga: Warganet Sebut Bukan Sekali Terjadi, SPBU Pertamina Bekasi Timur Disorot Usai BBM Diduga Tercampur Air

Salah seorang warga setempat, Endang (50), mengungkapkan bahwa kerusakan kembali muncul hanya sehari setelah dilakukan penambalan sementara beberapa hari sebelumnya.

“Itu kan dikerjain Rabu siang ya ditambal sementara, Kamis sudah mulai ada yang retak. Jumat itu sudah mulai ambles, awalnya lubang satu ban dulu. Nah lama-lama melebar,” kata Endang, Minggu 1 Maret 2026.

Menurutnya, setelah diperbaiki sementara, jembatan kembali dibuka dan dilintasi kendaraan seperti biasa.

Baca Juga: Mudik Gratis Kemenhub 2026 Resmi Dibuka 1 Maret, Kuota 110 Ribu Lebih untuk Bus, KA, dan Kapal Laut

Kepadatan arus lalu lintas diduga mempercepat kerusakan struktur tambalan tersebut.

“Karena banyak padatnya mobil kan yang lewat, setelah ditambal sementara mobil kan pada lewat. Kan udah dibuka. Kalau sudah dibuka ini, jalan ini kan ramai kalau sore,” jelasnya.

Endang menambahkan, dampak penutupan jembatan sangat terasa bagi warga yang sehari-hari bergantung pada jalur tersebut untuk bekerja maupun aktivitas lainnya.

Jalan alternatif yang tersedia dinilai tidak sebanding dengan volume kendaraan yang biasa melintas di jembatan itu.

“Kalau bisa permanen dan kuat, karena kalau jembatan ini ditutup, macetnya panjang. Karena jalan alternatif kecil, enggak lebar,” ujarnya.

Baca Juga: SPBU 34.171.46 Bulak Kapal Siap Ganti Rugi, 22 Kendaraan Mogok Usai Isi Pertalite Tercampur Air

Kemacetan yang terjadi bukan hanya mengganggu mobilitas warga, tetapi juga berpotensi memengaruhi aktivitas ekonomi masyarakat sekitar.

Sejumlah pengendara mengaku waktu tempuh mereka bertambah akibat harus memutar cukup jauh.

Lurah Setu, Dwi Widiastuti, membenarkan bahwa jembatan kembali ambles dan menyampaikan rencana perbaikan lanjutan.

Baca Juga: Pendaftaran Mudik Gratis Pertamina 2026 Segera Dibuka, Sudah Termasuk Arus Balik

“Nanti di bawah jembatan dikasih batu bronjong sehingga perbaikan bertahan lama, selagi menunggu tindak lanjut dari Kementerian PU,” ungkap Dwi, Minggu 1 Maret 2026.

Ia menjelaskan bahwa jembatan tersebut merupakan kewenangan Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane.

Sementara ini, pemerintah setempat berupaya melakukan langkah darurat agar akses bisa segera dipulihkan.

“Untuk kendaraan muatan besar tidak boleh lewat itu, motor dan mobil kecil boleh,” kata Dwi.

Sebelumnya, Suku Dinas Bina Marga Jakarta Timur telah melakukan penambalan sementara menggunakan material coldmix dan hotmix agar akses tetap bisa digunakan. Namun, kerusakan kembali terjadi dalam waktu singkat.

Dengan kondisi terbaru ini, warga berharap ada solusi permanen agar jalur vital penghubung Jakarta Timur dan Bekasi tersebut tidak lagi menjadi sumber kemacetan dan keresahan setiap kali musim hujan tiba.***