BEKASI.POJOKSATU.id – Majelis Al Abrar Indonesia memastikan akan melaksanakan Salat Idulfitri pada esok hari, usai menuntaskan ibadah puasa selama 30 hari penuh.

Diketahui bahwa pelaksanaan Salat IdulFitri akan dilaksanakan di Majelis Al Abrar Indonesia, di Perumahan Pulo Permatasari, Kecamatan Bekasi Selatan, Kamis, 18 Maret 2026, pukul 07.00 WIB dengan dihadiri ratusan Jamaah.

Pimpinan Majelis, Habib Rais RidJaly, mengatakan penetapan tersebut berdasarkan metode hisab yang selama ini digunakan secara konsisten oleh pihaknya.

“Malam ini kami awali dengan buka puasa bersama, lanjut salat Magrib dan takbir bersama. Setelah itu makan secukupnya sambil menunaikan zakat fitrah,” kata Habib Rais, Rabu 18 Maret 2026.

Ia memastikan, bahwa seluruh jamaah telah menunaikan kewajiban zakat fitrah dan sudah disalurkan kepada yang berhak.

“Alhamdulillah, semua ikhwan sudah mengeluarkan zakat fitrah dan sudah kami salurkan,” ujarnya.

Terkait penentuan awal Ramadhan hingga Idulfitri, Habib Rais menjelaskan pihaknya menggunakan metode hisab dengan mengamati peredaran bulan, bukan rukyat hilal secara langsung.

“Kami memulai puasa pada 17 Februari. Kami mengikuti peredaran bulan, mulai dari tanggal 7, lalu 15 saat purnama. Dari situ kami yakini awal puasa sudah tepat,” jelasnya.

Dengan perhitungan tersebut, total puasa yang dijalankan dipastikan genap 30 hari, sehingga Idulfitri ditetapkan jatuh pada esok hari.

Baca Juga : Pemudik Asal Meruya Bawa Kucing Naik Motor Saat Mudik, Alasannya Bikin Haru

“Insyaallah besok kami Salat Id di Majelis Al Abrar, mulai pukul 07.00 WIB,” ungkapnya.

Dalam pelaksanaannya, Habib Ibn Sihab akan bertindak sebagai imam sekaligus khatib. Usai salat, acara dilanjutkan dengan kebersamaan antarjamaah.

“Biasanya tidak lama, setelah itu makan bersama, ada ketupat sayur, selesai sampai siang,” ucapnya.

Selain itu, Majelis Al Abrar juga akan menggelar open house pada tanggal 20, mulai pukul 10.00 hingga 16.00 WIB.

Menanggapi perbedaan penentuan Idulfitri yang kerap terjadi, Habib Rais menilai hal tersebut sebagai sesuatu yang wajar dalam praktik keagamaan.

“Dulu orang menentukan bulan dengan melihat hilal karena belum bisa membaca dan menulis. Sekarang ilmu astronomi sudah sangat maju,” katanya.

Ia menyebut, pendekatan hisab yang digunakan sudah dilakukan sejak lama, bahkan sejak 1967.

“Gerhana saja bisa diprediksi sampai detik. Artinya perhitungan itu sudah sangat akurat,” tandasnya.***