BEKASI.POJOKSATU.ID - Praktik dugaan pungutan liar di jalur menuju TPA Sumur Batu membuat sejumlah sopir truk sampah resah.
Aksi tersebut disebut terjadi di Gang Lurah, tepatnya di samping Kelurahan Sumur Batu, Kecamatan Bantar Gebang, Kota Bekasi.
Para sopir mengaku kerap dimintai uang oleh sekelompok emak-emak setiap kali melintas di gang tersebut saat hendak membuang muatan sampah ke tempat pembuangan akhir.
Baca Juga: Polisi Sita 5.250 Butir Tramadol di Pasirgombong, Tiga Terduga Pelaku Ditangkap
Mereka menyebut praktik ini bukan hal baru, melainkan sudah berlangsung beberapa waktu terakhir.
Salah satu sopir berinisial S mengatakan, awalnya pungutan yang diminta berkisar Rp30 ribu hingga Rp50 ribu per truk.
Kini, nominalnya disebut berubah menjadi Rp5 ribu setiap kali melintas. Meski jumlahnya lebih kecil, praktik tersebut tetap dianggap memberatkan dan meresahkan.
Baca Juga: Relokasi 200 UMKM ke Jalan Veteran, 50 Pedagang Alun-Alun Bekasi Masih Menunggu Kepastian Lapak
“Sebulan lalu sampai Rp30 ribu sampai Rp50 ribu per truk. Sekarang memang Rp5 ribu, tapi tetap saja itu pungli,” ujar S, dikutip dari Radar Bekasi, Selasa 24 Februari 2026.
Yang membuat para sopir semakin tertekan bukan hanya soal uang, melainkan ancaman intimidasi jika menolak membayar.
S mengaku, sopir yang enggan memberikan uang kerap dimarahi bahkan mengalami perlakuan tidak menyenangkan.
Baca Juga: Harga Daging di Bekasi Tembus Rp140 Ribu, Cabai Rawit Merah Capai Rp100 Ribu per Kilogram
“Jika tidak mau bayar tidak akan boleh melintas di gang tersebut. Diomelin bahkan kita juga digetok kaca spion maupun sopirnya,” ungkapnya.
Menurut pengakuan para sopir, praktik pungli ini sempat ditindak aparat kepolisian beberapa waktu lalu.
Namun belakangan, pungutan kembali terjadi meski dengan tarif berbeda.
Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa praktik serupa akan terus berulang jika tidak ada pengawasan dan penindakan tegas.
Sebagai pekerja lapangan yang bertugas mengangkut sampah dari berbagai wilayah Kota Bekasi, para sopir mengaku berada dalam posisi sulit.
Baca Juga: Spesial HUT ke-29 Kota Bekasi, Pemkot Bekasi Pangkas Tarif Sedot WC
Di satu sisi mereka harus menyelesaikan tugas tepat waktu, di sisi lain mereka menghadapi tekanan di lapangan.
“Kita terpaksa bayar supaya bisa lanjut jalan dan buang sampah. Kalau enggak, takut ribut atau kendaraan dirusak,” kata S.
Gang Lurah sendiri merupakan salah satu akses menuju TPA Sumur Batu yang kerap dilalui truk sampah setiap hari.
Jika akses tersebut terganggu, proses pembuangan sampah bisa terhambat dan berdampak pada layanan kebersihan kota secara keseluruhan.
Para sopir berharap pemerintah daerah dan aparat penegak hukum segera turun tangan untuk memastikan jalur tersebut aman dari praktik pungli dan intimidasi.
Mereka menilai persoalan ini bukan sekadar soal uang receh, melainkan soal keamanan dan perlindungan terhadap pekerja yang menjalankan tugas pelayanan publik.
Baca Juga: Rantai Pasok Dipertaruhkan, Pasar Induk Cibitung Kunci Kendali Harga Sembako di Bekasi
“Kita sih ingin pungli itu ditindak jangan terus dibiarkan. Karena sangat memberatkan para sopir dan membahayakan juga kalau tidak ngasih. Pak wali kota harus turun juga pihak kepolisian,” tandasnya.
Para sopir berharap ada langkah konkret, seperti patroli rutin atau pengawasan lebih ketat di jalur tersebut, agar mereka dapat bekerja tanpa rasa takut.
Bagi mereka, keamanan di jalan bukan hanya soal kelancaran distribusi sampah, tetapi juga tentang keselamatan dan ketenangan saat menjalankan tugas sehari-hari.***




