BEKASI.POJOKSATU.ID - Menjelang bulan suci Ramadhan 2026, denyut ekonomi di Pasar Baru Bekasi semakin terasa.
Aktivitas jual beli meningkat signifikan, menghadirkan perputaran uang yang lebih besar dibandingkan hari biasa.
Bagi para pedagang kecil, momentum tahunan ini menjadi peluang penting untuk mendongkrak pendapatan.
Baca Juga: Sambut Ramadan dengan Hati Bersih, Pawai Obor Kalijaya Jadi Jembatan Perdamaian Warga
Sejak pagi, meski hujan gerimis mengguyur kawasan Bekasi Timur, warga tetap memadati pasar tradisional untuk membeli kebutuhan pokok.
Lonjakan pembeli terlihat dari ramainya lapak sayur, bumbu dapur, hingga kebutuhan harian lainnya. Ramadhan seolah menjadi katalis yang menggerakkan ekonomi mikro di tingkat akar rumput.
Aris (56), pedagang sayur yang sudah bertahun-tahun berjualan di pasar tersebut, mengaku merasakan langsung peningkatan omzet menjelang Ramadhan.
Baca Juga: Peresmian Lapangan Padurenan Perkuat Sinergi Pemda dan TNI, Warga Sambut Antusias
“Dari yang biasanya dapat Rp 500.000, sekarang bisa sampai Rp 800.000. Modalnya sekitar Rp 1,5 sampai Rp 2 juta sekali belanja,” ujarnya.
Menurut Aris, kenaikan ini dipicu meningkatnya kebutuhan rumah tangga untuk persiapan sahur dan berbuka puasa.
Meski harga sayuran relatif stabil, volume pembelian cenderung bertambah.
Baca Juga: DPR Kawal Hak Ibadah Warga Bekasi, Komisi III Gelar RDPU dan Soroti Sikap Developer
Ia menjual kentang Rp 13.000 per kilogram, sedangkan tomat, timun, kol, dan wortel berada di kisaran Rp 10.000 per kilogram.
“Alhamdulillah kalau mau puasa biasanya lebih ramai. Orang belanja lebih banyak dari biasanya,” katanya.
Tak hanya pedagang sayur, sektor informal lain seperti pedagang bumbu, daging, hingga jajanan tradisional juga mulai merasakan geliat yang sama.
Ramadhan selalu menjadi momentum peningkatan konsumsi masyarakat, terutama untuk bahan pangan.
Di sisi pembeli, Winda (31), warga Bekasi Timur, mengaku lebih memilih berbelanja di pasar tradisional karena harga dinilai lebih terjangkau.
Baca Juga: Diresmikan Gubernur Jabar, Ruang Terbuka Publik Padurenan Jadi Pusat Aktivitas Warga Mustika Jaya
“Kalau belanja di pasar kan kita bebas memilih langsung kualitas barang yang diinginkan,” ujarnya.
Menurutnya, dengan nominal tertentu, ia bisa mendapatkan lebih banyak kebutuhan dibandingkan berbelanja di pasar modern.
“Harganya masih terjangkau banget, apalagi buat saya yang beli dalam jumlah banyak,” tambahnya.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana Ramadhan berperan sebagai motor penggerak ekonomi lokal.
Perputaran uang meningkat, interaksi jual beli lebih intens, dan peluang usaha musiman bermunculan.
Bagi pedagang kecil, momen ini menjadi kesempatan memperbaiki kondisi keuangan setelah periode sepi.
Baca Juga: 200 Reklame Ilegal Ditertibkan, Satpol PP Bekasi Targetkan Kota Bebas Iklan Liar
Namun, para pedagang tetap berharap tren positif ini berlanjut sepanjang bulan suci.
“Saya berharap keadaan jual beli di pasar bisa meningkat terus. Biar perekonomian pedagang juga membaik,” ucap Aris.
Ramadhan bukan hanya momentum spiritual bagi umat Islam, tetapi juga periode strategis dalam siklus ekonomi rakyat.
Dari transaksi sederhana di lapak sayur hingga pembelian dalam jumlah besar oleh warga, pergerakan ekonomi mikro di pasar tradisional menjadi cerminan nyata bagaimana bulan suci mampu menggerakkan roda perekonomian daerah secara langsung.***




