BEKASI.POJOKSATU.id - Monumen Kali Bekasi menjadi sebuah simbol perjuangan rakyat Bekasi di masa revolusi kemerdekaan yang dimulai pada tahun 1945 hingga 1949.

Berdirinya monumen ini berkaitan dengan sebuah peristiwa berdarah yang terjadi di Bekasi pada tanggal 19 Oktober 1945, 2 bulan setelah Indonesia merdeka.

Pada awal kemerdekaan, Bekasi sebagai daerah yang berbatasan dengan Jakarta dijadikan tempat untuk mengawasi seluruh alur keluar masuk barang, makanan, senjata dan juga tawanan.

Baca Juga: LRT Jabodebek Terapkan Promo Jelang Liburan Natal dan Tahun Baru, Berikut Rincian Lengkapnya

Terlebih Bekasi dilintasi oleh jalur kereta api utama penghubung Jakarta dan beberapa kota besar seperti Bandung, Yogyakarta, Semarang dan Surabaya.

Kekalahan Jepang membuat mereka pada akhirnya dipulangkan ke negara asalnya sebagai interniran (tawanan perang) oleh Sekutu.

Para interniran ini dipulangkan melalui pangkalan udara Kalijati, Subang dan diangkut menggunakan kereta api dari Jakarta.

Baca Juga: Aksi Dorong-dorongan Warnai Kampanye Mahfud MD di Bekasi

Di tanggal 19 Oktober 1945, sebuah kereta berisikan sekitar 90 tentara interniran Jepang akan dibawa menuju Kalijati melewati Bekasi.

Secara garis besar, kedua versi memiliki alur yang sama namun hanya ada perbedaan di beberapa sisi salah satunya adalah pergerakan dari kereta yang membawa interniran Jepang.

Pertama, kereta tidak lolos dan sedari awal sudah ditargetkan untuk berhenti di Bekasi untuk diperiksa.

Kedua, kereta yang diisi oleh tentara Jepang sudah berhasil lolos hingga Cikampek namun dipaksa kembali karena tidak melewati pemeriksaan di Bekasi.

Baca Juga: Masyarakat Antusias dengan Kehadiran Mahfud MD

Singkatnya, kepala jawatan kereta api saat itu mengabarkan salah seorang pejuang bernama Zakaria dengan pangkat Letnan Kolonel bahwa akan ada kereta yang menampung interniran Jepang menuju Kalijati.

Di versi pertama, kereta ini sempat lolos hingga Cikampek dan dipaksa kembali menuju Bekasi untuk melakukan pemeriksaan.

Sedangkan di versi kedua, kereta nantinya akan dimasukkan menuju jalur buntu untuk dilakukan pemeriksaan.

Letkol Zakaria mencoba berbicara dengan komandan tentara Jepang tersebut dan hampir terbunuh. Dirinya berhasil melawan dan berbalik membunuh komandan tersebut.

Mendengar suara tembakan dari dalam gerbong, para pejuang yang mengerumuni kereta langsung masuk dan memburu para tentara Jepang yang sempat melarikan diri.

Seluruh tentara Jepang tersebut ditangkap dalam keadaan hidup dan mati dan beberapa yang masih hidup langsung dieksekusi.

Mayat-mayat tersebut dihanyutkan di Kali Bekasi karena jumlah yang terlalu banyak.

Baca Juga: Cawapres Mahfud MD Kunjungi Ma'had Annida Al-Islamy di Bekasi

Akibatnya Kali Bekasi saat itu sempat berwarna merah darah hasil mayat-mayat tersebut.

Peristiwa ini sempat membuat panas hubungan para pemimpin negara seperti Soekarno dengan tokoh-tokoh Jepang yang sebelumnya melakukan kesepakatan agar kepulangan para tentara interniran ini berjalan damai tanpa ada pertumpahan darah.

Presiden Soekarno pun sampai berkunjung langsung ke Bekasi untuk memberikan pengarahan bahwa jangan sampai ada peristiwa serupa terjadi lagi.

Untuk mengenang peristiwa ini, Pemerintah Kota Bekasi dan Pemerintah Jepang bekerjasama untuk membangun sebuah monumen sebagai lambang perjuangan dengan pesan perdamaian dan cinta kasih.***