BEKASI.POJOKSATU.id – Puluhan penyandang disabilitas sensorik netra mengikuti turnamen catur yang digelar di Sentra Terpadu Pangudi Luhur (STPL), Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi, Kamis (7/5/2026).
Menariknya, peserta yang ikut dalam perlombaan tersebut datang dari berbagai daerah di Jabodetabek hingga Bandung, Jawa Barat.
Pelatih Catur STPL Bekasi, Toni Budi Santoso mengatakan, total ada 22 peserta yang ambil bagian dalam turnamen tersebut.
“Untuk kegiatan catur kali ini di Sentra Terpadu Pangudi Luhur, pesertanya memang dari Jabodetabek dan sekitarnya. Ada juga yang dari Bandung untuk ikut partisipasi di kegiatan pada hari ini, totalnya ada 22 orang,” kata Toni kepada awak media di lokasi.
Menurut Toni, turnamen itu digelar dengan kategori umum tanpa batasan usia peserta. Bahkan, peserta termuda tercatat masih berusia 12 tahun, sementara peserta paling senior mencapai usia 70 tahun.
“Kalau untuk kegiatan pada hari ini tidak dibatasi usia, bebas. Ada yang 12 tahun, ada yang 70 tahun. Jadi memang kami buka terbuka umum. Kategorinya umum,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, sistem kategori umum tersebut membuat pertandingan berlangsung lebih menarik karena anak-anak bisa berhadapan langsung dengan peserta lansia.
Toni menyebut, antusiasme masyarakat terhadap olahraga catur tuna netra terus meningkat.
Pasalnya, olahraga tersebut dapat dimainkan bersama antara penyandang disabilitas dan non-disabilitas.
“Karena memang catur ini sudah bisa dibilang olahraga yang bermasyarakat ya. Jadi untuk catur itu bisa diikuti disabilitas dengan yang non-disabilitas,” ujarnya.
Baca Juga : Persija vs Persib Digelar di Samarinda, Nur Alim Sebut Macan Kemayoran Rugi
Dalam pertandingan itu, para peserta menggunakan papan catur khusus untuk tuna netra. Papan tersebut dibuat dengan lubang di setiap kotak agar bidak tidak mudah jatuh saat tersenggol.
“Kalau untuk disabilitas sensorik netra itu caturnya memang ada kekhususan. Jadi bentuk caturnya dan dia ada lubang-lubangnya biar kalau kesenggol itu buahnya enggak jatuh,” ungkapnya.
Selain itu, bidak hitam diberi penanda khusus agar mudah dibedakan dengan bidak putih. Sementara kotak hitam pada papan catur dibuat timbul supaya dapat dikenali melalui sentuhan tangan.
“Biasanya buah yang hitam dikasih tanda biar buah hitam dan putihnya enggak tertukar. Sama kotaknya, kotaknya kalau yang hitam timbul, kalau yang putih enggak timbul,” paparnya.
Sekadar diketahui, turnamen catur tuna netra itu merupakan bagian dari rangkaian kegiatan pameran karya penyandang disabilitas dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di STPL Bekasi.
Selain perlombaan, kegiatan tersebut juga menampilkan berbagai karya seni para penerima manfaat, mulai dari lukisan, seni tari, kerajinan kulit hingga batik ciprat.
Diperkirakan sekitar 200 orang memadati lokasi acara, mulai dari peserta lomba, penampil hingga para pendamping orangtua.***




