BEKASI.POJOKSATU.id - Hari kedua setelah Lebaran salah satu destinasi wisata alam di Kota Bekasi yaitu Wisata Hutan Bambi terlihat sepi pengunjung.

Padahal, setiap tahun pada momen libur Lebaran tempat ini biasanya ramai pengunjung, berbeda dengan kondisi tahun ini.

Berdasarkan pantauan wartawan bekasi.pojoksatu.id di lokasi, tidak ada penjual makanan ataupun panggung hiburan yang beroperasi.

Baca Juga: Pj Wali Kota Bekasi: Kota Bekasi Terbuka Bagi Siapapun, Ini Syarat Agar Bisa Bertahan

Padahal lokasi wisata yang masuk ke dalam wilayah Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur, itu menjadi tempat rekreasi warga yang tidak mudik.

Ismail Ibrahim (50 tahun) asal Pondok Timur menjelaskan kedatangan ke Hutan Bambu untuk menikmati suasana asri dan sejuk di bantaran Kali Bekasi.

Tetapi, tidak ada satu pun penjaja makanan yang membuka warungnya.

Dia menginginkan kawasan Kota Bekasi lebih memperbanyak wisata-wisata alam yang dapat dinikmati masyarakat.

"Di Kota Bekasi kurang tempat wisata, kebanyakan kedai-kedai kopi ramai. Saya aja bosen kalau di tempat seperti itu. Terlalu ramai, tidak bisa santai, tidak alami kan seperti di sini," ungkap Ibrahim, kepada bekasi.pojoksatu.id, Kamis, 11 April 2024.

Baca Juga: Dishub Kota Bekasi Prediksi Puncak Arus Balik H+4 Lebaran

Ibrahim tidak tahu pasti mengapa tempat wisata ini tutup, tetapi dia menerka karena masih suasana Lebaran dan banyak masyarakat masih melakukan halalbihalal.

"Masih pada mudik kali mayoritasnya ya, selain itu banyak masyarakat juga yang melakukan silahturahmi ke keluarga dekat," ungkap dia.

Dia meyakini jika wisata Hutan Bambu dikelola dengan baik bersama-sama, dapat meningkat potensi untuk pembangunan Kota Bekasi.

"Bila perlu dikembangkan lah, untuk masyarakat bawah, karena rekreasi Kota Bekasi kurang juga, kondisi itulah harusnya fasus-fasom bisa dikembangkan, contoh seperti jogging track," kata dia.

"Pemerintah harus menghidupkan, dari pada keluar kota, disinikan bisa menghidupkan PAD, kalau jauh kan butuh biaya, kalau disini kan gak perlu pakai biaya, terus kulinernya bisa hidup kan, " demikian kata dia.***