BEKASI.POJOKSATU.ID - Anggota Komisi XIII DPR RI, Rieke Diah Pitalok, mendesak aparat kepolisian untuk melakukan investigasi secara komprehensif dan mendalam terkait kematian Ermanto Usman (65) dalam tragedi berdarah di Jatibening, Pondok Gede, Kota Bekasi, Senin 2 Maret 2026.
Ia menegaskan, pengusutan tidak boleh berhenti pada pelaku lapangan, melainkan harus mengungkap kemungkinan adanya aktor intelektual di balik peristiwa tersebut.
Rieke yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Konfederasi Rakyat Pekerja Indonesia menyampaikan pernyataan tersebut usai menyambangi kediaman almarhum pada Rabu 4 Maret 2026.
Baca Juga: Layanan BPJS Ketenagakerjaan hadir di Bazar Ramadhan Kota Bekasi
Ia menilai terdapat sejumlah kejanggalan yang perlu didalami lebih jauh oleh aparat penegak hukum.
“Jadi saya kira perlu ada kajian dan investigasi yang lebih luas lebih tajam dari pihak kepolisian dan kami berharap ada penegakan hukum segera diambil begitu tentu saja bukan hanya eksekutor lapangan tapi otak di balik indikasi pembunuhan ini,” tegas Rieke, 4 Maret 2026.
Menurutnya, tragedi yang menewaskan Ermanto tidak bisa dipandang sebagai tindak kriminal biasa.
Baca Juga: Belanja di Summarecon Mall Bekasi Berhadiah Umrah, Ini Syarat dan Periodenya
Ia meminta aparat tidak terburu-buru menyimpulkan motif sebelum seluruh fakta terungkap secara menyeluruh.
Rieke juga mengingatkan agar penyelidikan dilakukan secara transparan dan profesional guna menghindari spekulasi liar di tengah masyarakat.
“Indikasi kuat ini bukan pencurian tidak ada barang yang hilang jangan ada yang memframing ini perampokan ini bukan perampokan karena tidak ada barang yang hilang kecuali kunci mobil dompet dan handphone,” ujarnya.
Baca Juga: Sahur Tanpa Nasi Aman atau Berbahaya? Dokter Gizi Ungkap Fakta Sebenarnya
Desakan tersebut memperlihatkan adanya tekanan institusional dari DPR agar proses penegakan hukum berjalan maksimal.
Sebagai anggota Komisi XIII yang membidangi hukum dan hak asasi manusia, Rieke menilai pengungkapan kasus ini penting tidak hanya untuk keadilan keluarga korban, tetapi juga untuk menjaga kepercayaan publik terhadap aparat penegak hukum.
Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi Kota, Andi Muhammad Iqbal, sebelumnya menjelaskan bahwa peristiwa tersebut pertama kali terungkap oleh anak perempuan korban yang tinggal serumah.
Saat alarm sahur berbunyi dan orang tuanya tak kunjung membangunkannya seperti biasa, sang anak merasa curiga dan turun memeriksa kondisi rumah.
“Yang temukan terlebih dahulu itu adalah anak perempuannya yang tinggal di situ. Jadi bertiga,” kata Andi.
Baca Juga: Kapolsek Medansatria Resmi Berganti, AKP Tri Baskoro Gantikan Kompol Rusit Malaka
Ketika mencoba membuka pintu kamar, anak korban mendapati pintu diduga telah dirusak sehingga tidak dapat dibuka.
Setelah jendela dibuka secara paksa bersama anggota keluarga lain, kedua korban ditemukan dalam kondisi tergeletak.
“Kedua korban ditemukan dalam kondisi tergeletak. Ayahnya ditemukan tewas dan istrinya kritis,” tutur Andi.
Baca Juga: Sering Sakit Kepala Saat Puasa? Ini Strategi Cerdas Cegah Dehidrasi dan Turun Energi Seharian
Kasus ini pun menjadi perhatian luas, terlebih setelah muncul dorongan dari DPR agar penyidikan dilakukan secara menyeluruh.
Rieke menegaskan, aparat harus memastikan tidak ada fakta yang diabaikan dan seluruh kemungkinan motif dibuka secara objektif.
Dengan tekanan dari Komisi XIII DPR RI, publik kini menanti langkah konkret kepolisian dalam mengusut tuntas kasus tersebut, termasuk menelusuri kemungkinan adanya dalang di balik kematian Ermanto Usman.***




