BEKASI.POJOKSATU.ID - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta kembali mengintensifkan operasi modifikasi cuaca/OMC sebagai langkah antisipatif menghadapi potensi cuaca ekstrem yang masih mengancam wilayah ibu kota.
Upaya ini dilakukan seiring tingginya dinamika atmosfer yang berpotensi memicu hujan lebat, banjir, dan bencana hidrometeorologi lainnya.
Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta Isnawa Adji menyatakan, pelaksanaan OMC merupakan bagian dari strategi manajemen risiko bencana yang dilakukan secara berkelanjutan, disertai evaluasi harian dan pemantauan atmosfer secara real time.
Baca Juga: Elite Lengkap Hadir, Aksi Kemanusiaan PDIP di Jabar Jadi Simbol Kekompakan Partai
“Rencana penerbangan Operasi Modifikasi Cuaca ini merupakan bagian dari kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi ekstrem di Provinsi DKI Jakarta,” ujar Isnawa di Jakarta, Sabtu 31 Januari 2026.
Menurut Isnawa, operasi ini merupakan hasil sinergi lintas instansi antara BPBD DKI Jakarta, Badan Nasional Penanggulangan Bencana, BMKG, TNI Angkatan Udara, serta unsur teknis terkait lainnya.
Kolaborasi tersebut memungkinkan pengambilan keputusan berbasis data meteorologi terkini, sehingga penyemaian awan dapat dilakukan secara tepat sasaran.
Baca Juga: Kapolres Metro Bekasi Ajak Warga Aktif Laporkan Peredaran Obat Daftar G
Pada pelaksanaan sorti pertama, pesawat OMC melakukan penyemaian awan di perairan utara Jakarta pada ketinggian 8.000 hingga 11.000 kaki dengan menggunakan bahan semai Kalsium Oksida (CaO) sebanyak 800 kilogram.
Langkah ini ditujukan untuk mengendalikan pertumbuhan awan hujan agar tidak bergerak menuju wilayah daratan Jakarta.
Sementara itu, sorti kedua difokuskan pada wilayah barat daya Jakarta dengan ketinggian penerbangan 7.000 hingga 8.000 kaki.
Baca Juga: Banjir di Telukpucung, Polisi-TNI-Pemda Bersinergi Amankan Pengungsian Warga
Pada penerbangan ini, bahan semai yang digunakan adalah Natrium Klorida (NaCl) sebanyak 800 kilogram.
Isnawa menjelaskan bahwa pemilihan lokasi dan jenis bahan semai dilakukan berdasarkan analisis atmosfer yang cermat.
“Penyemaian awan diarahkan ke wilayah yang lebih aman, berdasarkan hasil analisis kondisi atmosfer dan pemantauan cuaca secara berkelanjutan,” katanya.
BPBD DKI Jakarta menegaskan bahwa OMC tidak dilakukan secara serampangan.
Setiap hari, tim teknis melakukan evaluasi terhadap efektivitas penyemaian awan dan memperbarui strategi berdasarkan perkembangan cuaca terbaru.
Baca Juga: Banjir di Telukpucung, Polisi-TNI-Pemda Bersinergi Amankan Pengungsian Warga
Evaluasi ini penting untuk memastikan bahwa upaya modifikasi cuaca benar-benar berdampak dalam mengurangi risiko hujan ekstrem di wilayah padat penduduk.
Selain OMC, BPBD juga terus memperkuat koordinasi lintas instansi dan kesiapsiagaan di lapangan, termasuk kesiapan pompa air, petugas, serta sistem peringatan dini.
“Kami terus melakukan evaluasi harian dan memperkuat koordinasi lintas instansi guna memastikan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi di DKI Jakarta dan sekitarnya,” tegas Isnawa.
Dengan cuaca ekstrem yang masih berpotensi terjadi, BPBD berharap langkah antisipatif melalui OMC dan pemantauan atmosfer secara real time dapat meminimalkan dampak bencana serta melindungi keselamatan warga Jakarta.***




