BEKASI.POJOKSATU.id - Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mendorong industri media menghadapi tantangan baru. Penurunan page views, munculnya fenomena zero click, hingga perubahan perilaku masyarakat dalam mengonsumsi informasi membuat perusahaan pers dituntut lebih adaptif agar tetap bertahan.

Penanggung Jawab Tribunnews.com sekaligus Wakil Direktur Pemberitaan Tribun Network, Domu D. Ambarita, mengatakan tantangan media saat ini tidak lagi sekadar menyajikan berita dengan cepat, tetapi juga memastikan setiap informasi yang dipublikasikan memiliki tingkat akurasi tinggi dan sesuai kaidah jurnalistik.

Menurut Domu, perubahan ekosistem digital turut memengaruhi keberlangsungan bisnis media. Salah satu persoalan yang kerap dihadapi redaksi adalah meningkatnya permintaan penghapusan (take down) berita, baik karena kepentingan pihak tertentu maupun akibat kesalahan dalam proses pemberitaan.

Baca Juga: Jasa Marga Lakukan Rekonstruksi Jalan Tol Sedyatmo dan Dalam Kota, Simak Jadwalnya

"Tantangan terbesar ruang redaksi saat ini bukan hanya kecepatan, tetapi bagaimana menjaga akurasi di tengah derasnya arus informasi digital. Kesalahan kecil bisa berujung pada permintaan take down, ajudikasi, bahkan sengketa di Dewan Pers," ujarnya saat menjadi narasumber dalam Workshop Literasi Keuangan Forum Pimred Indo Satu Media Grup di Vue Palace, Kota Bandung, Sabtu, 18 Juli 2026.

Ia menjelaskan, Tribun Network melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pola kerja redaksi setelah perubahan algoritma Google yang sebelumnya lebih mengedepankan kecepatan publikasi dibanding kualitas konten. Pada awal pengembangan portal regional tahun 2014, setiap wartawan ditargetkan menghasilkan hingga 15 berita per hari, sehingga proses verifikasi dinilai belum maksimal.

Sebagai respons, Tribun Network menerapkan Deklarasi Bogor 2023, yakni kebijakan yang melarang jurnalis menjadikan media sosial sebagai sumber berita tanpa melalui proses konfirmasi.

"Media sosial hanya menjadi titik awal pencarian informasi. Sebelum dipublikasikan, seluruh data harus dikonfirmasi agar produk jurnalistik tetap memenuhi kaidah kode etik," tegasnya.
Domu menyebut kebijakan tersebut berdampak positif terhadap kualitas pemberitaan. Jika pada 2023 Tribun Network hampir setiap bulan menghadapi proses klarifikasi di Dewan Pers, sepanjang 2026 hanya terdapat satu kasus yang berkaitan dengan sengketa hak cipta foto milik fotografer asal Inggris.

Di sisi lain, tantangan bisnis media juga semakin kompleks. Perubahan algoritma mesin pencari dan meningkatnya penggunaan AI membuat trafik kunjungan ke media digital terus menurun. Bahkan, trafik Tribun Network yang sempat mencapai 33 juta kini hanya bertahan sekitar 50 hingga 60 persen dari capaian tertingginya.

"Sekarang tantangannya bukan hanya AI, tetapi juga zero click. Orang mendapatkan jawaban langsung dari mesin pencari tanpa membuka website media. Karena itu kita tidak bisa lagi hanya bergantung pada page views," jelas Domu.

Baca Juga: Dua Titik Nobar Inggris vs Prancis Disiapkan untuk Warga Bekasi

Meski demikian, ia meyakini media arus utama masih memiliki peluang untuk berkembang apabila mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Strategi tersebut antara lain dilakukan dengan meningkatkan kualitas konten, memperkuat distribusi melalui video dan media sosial, serta mengembangkan sumber pendapatan baru yang lebih berkelanjutan.

"Pers harus tetap eksis sebagai penerang demokrasi. Tanpa pers yang bebas dan bertanggung jawab, masyarakat akan kehilangan referensi yang benar," pungkasnya.

Workshop Literasi Keuangan Forum Pimred Indo Satu Media Grup diikuti jajaran direksi, general manager, pimpinan redaksi, divisi pemasaran, periklanan, dan keuangan dari seluruh unit Indo Satu Media Grup. Kegiatan tersebut didukung oleh LPS, BRI, bank bjb, bank bjb syariah, PLN Indonesia Power, PLN UIP3B Jawa Bali UP2B Jabar, Sierra, Yamaha Jabar, dan Telkomsel.