BEKASI.POJOKSATU.ID - Awal tahun 2026 menjadi periode krusial bagi stabilitas pasar modal Indonesia.

Bursa Efek Indonesia (BEI) menghadapi tekanan hebat akibat lonjakan volatilitas yang dipicu sentimen global, hingga berujung pada penghentian sementara perdagangan atau trading halt selama dua hari berturut-turut.

Situasi ini menandai salah satu ujian terberat BEI dalam beberapa tahun terakhir dan memunculkan kekhawatiran publik terhadap ketahanan pasar modal nasional.

Baca Juga: 6.800 KK Mengungsi, Layanan Pengungsian Diuji di Tengah Banjir Terparah Bekasi

Gejolak tersebut terjadi di tengah perubahan kebijakan indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang berdampak pada arus modal asing di pasar negara berkembang.

Tekanan jual meningkat tajam, memicu ketidakstabilan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan mendorong otoritas bursa mengambil langkah darurat untuk menjaga kepercayaan investor.

Di tengah kondisi itu, Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia, Iman Rachman, secara resmi menyatakan pengunduran diri.

Baca Juga: KDM Bongkar Kegagalan Tata Kota Bekasi, Infrastruktur Tak Seimbang

Ia menegaskan langkah tersebut merupakan bentuk tanggung jawab atas dinamika pasar yang terjadi di awal tahun ini.

“Saya sebagai Direktur Utama Bursa Efek Indonesia dan sebagai bentuk tanggung jawab saya terhadap apa yang terjadi dua hari kemarin, menyatakan mengundurkan diri sebagai Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia,” ujar Iman, di Jakarta, Jumat 30 Januari 2026.

Iman berharap keputusannya dapat membantu meredam gejolak dan membuka ruang pemulihan kepercayaan di pasar modal Indonesia.

Baca Juga: Peristiwa ditemukannya seorang pengemudi meninggal dunia di dalam mobil yang terparkir di pinggir Tol Cikampek Km 27, Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi

“Saya berharap ini yang terbaik bagi pasar modal. Semoga dengan pengunduran diri saya ini, pasar modal kita bisa menjadi lebih baik,” katanya.

Trading halt dua hari berturut-turut di awal tahun menjadi sinyal kuat bahwa pasar modal tengah berada dalam fase rawan.

Kondisi ini tidak hanya berdampak pada investor institusi, tetapi juga investor ritel yang jumlahnya terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Ketidakpastian global, pergeseran portofolio investor asing, serta sensitivitas terhadap kebijakan indeks internasional menjadi tantangan besar bagi BEI untuk menjaga stabilitas dan likuiditas pasar.

Iman menegaskan bahwa langkah mundur tersebut bukan bentuk penghindaran tanggung jawab, melainkan komitmen moral sebagai pimpinan lembaga strategis.

Baca Juga: Pengemudi Tewas di Tol Cikampek, Alarm Bahaya Kelelahan dan Penyakit Saat Berkendara

“Saya percaya bahwa ini bentuk tanggung jawab saya sebagai Direktur Utama Bursa Efek Indonesia. Mudah-mudahan kita yang hari ini mulai membaik, akan terus membaik,” tuturnya.

Ke depan, BEI dituntut mampu melewati masa transisi kepemimpinan dengan cepat dan solid.

Stabilitas pasar modal menjadi kepentingan publik yang strategis, mengingat perannya dalam menopang pembiayaan pembangunan nasional.

Serta menjaga kepercayaan investor domestik dan global di tengah dinamika ekonomi internasional yang kian kompleks.***