BEKASI.POJOKSATU.id, Bandung — Langkah nyata menjaga lingkungan sekaligus memutar roda ekonomi lokal terus ditunjukkan oleh warga Kelurahan Campaka, Kecamatan Andir, Kota Bandung.

Melalui Program Campaka Kampung Iklim (CAPLIM), masyarakat setempat sukses mengolah sampah anorganik, limbah organik, hingga kain perca menjadi produk bernilai guna dan bernilai jual.

Keberhasilan ekosistem ini dipantau langsung dalam kegiatan monitoring bersama antara PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat (JBB) melalui Aviation Fuel Terminal (AFT) Husein Sastranegara dan Pemerintah Kelurahan Campaka.

Pemantauan berfokus pada tiga kelompok binaan utama yakni Bank Sampah Campaka, Rumah Maggot Campaka, dan kelompok ekonomi kreatif Master Jahit.

Infrastruktur pengelolaan sampah di wilayah ini terbilang rapi. Bank Sampah Campaka kini menaungi satu Bank Sampah Induk dan 10 Bank Sampah Unit yang tersebar di tiap Rukun Warga (RW). Langkah ini memudahkan warga memilah dan menyetor sampah anorganik dari rumah masing-masing.

Tiap bulannya, jaringan bank sampah ini mengolah sekitar 300 kilogram sampah anorganik. Usaha ini mendatangkan pendapatan Rp1,5 juta per bulan bagi Bank Sampah Induk, serta Rp200 ribu hingga Rp800 ribu per bulan untuk tiap Bank Sampah Unit di tingkat RW.

Ketua Bank Sampah Campaka sekaligus Local Hero pengelolaan sampah anorganik, Endis Distomi, menyambut positif dampak keberlanjutan program ini.

“Kami sangat merasakan manfaat dari program ini. Para kader di setiap RW juga aktif mengumpulkan dan menyetorkan sampah ke Bank Sampah Induk. Alhamdulillah, selain lingkungan menjadi lebih terkelola, manfaat ekonominya juga semakin terasa bagi anggota,” ujar Endis.

Tak hanya sampah anorganik, penanganan limbah organik juga berjalan masif lewat Rumah Maggot Campaka. Memanfaatkan larva Black Soldier Fly (BSF), kelompok ini sanggup mengurai hingga 500 kilogram sampah organik setiap harinya.

Local Hero Rumah Maggot Campaka, Dudi Subekti, mengungkapkan bahwa pendampingan berkala sangat membantu menjaga stabilitas produksi maggot di wilayahnya.

“Rumah Maggot Campaka terus berkembang dan produktivitas budidaya maggot semakin stabil. Penambahan ruang insektarium juga membantu menjaga siklus budidaya, khususnya pada tahap lalat BSF. Kami berterima kasih kepada Pertamina dan Pemerintah Kelurahan Campaka atas pendampingan yang terus diberikan,” ujar Dudi.

Di sisi lain, pemberdayaan ekonomi juga menyasar limbah tekstil melalui kelompok Master Jahit. Sisa kain perca yang biasanya terbuang kini disulap menjadi beragam produk kreatif berdaya jual, seperti tas, topi, hingga iket Sunda.

Area Manager Communication, Relations & CSR Regional JBB PT Pertamina Patra Niaga, Reno Fri Daryanto, menegaskan bahwa kolaborasi ini bertujuan membangun kemandirian masyarakat berbasis potensi lokal.

“Program CAPLIM tidak hanya diarahkan pada pemberian bantuan, tetapi juga untuk membangun ekosistem yang dapat dikelola dan dikembangkan oleh masyarakat. Karena itu, pendampingan dan kolaborasi dengan pemerintah kelurahan menjadi penting agar manfaat program dapat terus dirasakan dalam jangka panjang,” ujar Reno.

Lewat integrasi bank sampah, pengolahan maggot, dan kriya kain perca, langkah warga Campaka bersama Pertamina ini tak sekadar menjaga kebersihan lingkungan.

Kolaborasi ini sekaligus mendukung pencapaian target pembangunan berkelanjutan (SDGs), mulai dari penciptaan lapangan kerja, pengelolaan kota yang ramah lingkungan, hingga aksi nyata menghadapi perubahan iklim.***