BEKASI.POJOKSATU.id - Serangan fajar yang kerat kaitannya dengan politik uang seolah menjadi tradisi setiap pesta demokrasi akan digelar.
Serangan fajar sebagaimana telah dijelaskan pada posting sebelumnya adalah praktik distribusi uang maupun dalam bentuk yang lain kepada warga dengan hak pilih.
Harapan serangan fajar adalah agar warga memilih pasangan calon tertentu pada pemungutan suara.
Baca Juga: Sering Disebut-Sebut saat Masa Tenang Pemilu, Apa Arti Serangan Fajar?
Lalu, kenapa serangan fajar masih marak kendati sudah banyak sosialisasi yang dilakukan berbagai pihak untuk menolak politik uang?
Penulis yang telah meliput berbagai hajat demokrasi dari tingkat desa sampai ke tingkat pemilihan presiden mencatat alasannya.
1.Kondisi ekonomi sulit
Ada golongan masyarakat yang memang menanti-nantikan serangan fajar sebagai angin segar untuk pendapatan mereka.
Bayangkan jika ada 3 calon yang berkontestasi dan utusan tiap calon paling tidak memberi 50.000 rupiah, maka satu warga bisa mendapat 150.000 rupiah dalam sehari.
Hal itu yang menjadi faktor serangan fajar dinanti-nanti, bahkan ada perwakilan warga yang secara aktif mencari operator praktik tersebut.
2.Kurang edukasi politik
Pemilih ini biasanya berada di pinggiran dan pedesaan yang tidak terlalu memedulikan tentang betapa pentingnya pemimpin yang berkualitas bagi suatu daerah.
Mereka yang merasa memiliki hak suara dengan begitu saja rela mendapat sejumlah uang.
Baca Juga: Tipe-Tipe Pemilih Menghadapi Serangan Fajar
Ada yang berpendapat efektifitas serangan fajar bergantung pada nominal, tapi ada juga yang kekeh berpendapat pada momen distribusi atau siapa yang paling akhir akan paling diingat.
Pemilih pragmatis tidak peduli dengan konsekuensi politik pertukaran suara dengan bayaran uang. Karena, mereka lebih peduli dengan siapa yang bisa membayar suaranya.
3.Kontestan tidak percaya diri
Sebagaimana lingkaran setan, pasangan calon yang memiliki elektabilitas bagus, populer dan pun masih melakukan hal ini.
Alasannya sederhana, mereka tidak ingin upaya yang selama ini dibangun sia-sia dan kalah hanya gara-gara rival mereka memberi sesuatu kepada pemilih.
Jadi, betapa bagusnya potensi seseorang peserta pemilihan, dia masih khawatir suaranya terenggur rival jika tidak melakukan hal yang sama.
4.Pemilih pragmatis tinggi
Pemilih pragmatis bisa juga disebut swing voter yang mudah terpengaruh oleh pemberian.
Jika suatu daerah masih banyak persentase pemilih pragmatis dari daftar pemilih tetap (DPT) maka hal itu bisa menjadi medan tempur bagi para kontestan.
Kontestan yang berfokus pada wilayah padat penduduk dengan mayoritas warga perumahan dan pendatang, pasti akan tetap melirik potensi pemilih pragmatis ini. Apalagi jika kuantitasnya cukup banyak.
Karena itu, hal ini turut menentukan perolehan suara pasangan calon. Sebagai suatu segmen pemilih khusus, maka mereka juga akan mendapat perhatian khusus, dalam hal ini distribusi 'sesuatu' saat serangan fajar.
Jadi, demikian alasan mengapa serangan fajar masih terus saja terjadi. Meskipun pemangku kepentingan dalam penyelenggaraan pesta demokrasi ini gembar-gembor melarang dan sosialisasi.
Jika faktor pemicunya masih ada, maka praktik serangan fajar akan sulit hilang dari peredaran.***




