BEKASI.POJOKSATU.ID - Festival Imlek Jakarta 2026 tidak hanya menghadirkan kemeriahan lampion dan barongsai, tetapi juga menegaskan identitas Jakarta sebagai kota dengan akar akulturasi budaya yang kuat.

Perpaduan budaya Tionghoa dan Betawi tampil nyata dalam berbagai pertunjukan yang digelar di ruang publik, khususnya di kawasan Bundaran HI.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyoroti eratnya hubungan budaya Tionghoa dan Betawi yang telah terjalin sejak lama.

Baca Juga: Lampion 12 Shio hingga Laser Show Spektakuler, Festival Imlek Jakarta 2026 Sulap Ibu Kota Jadi Destinasi Wisata Cahaya

Menurutnya, kontribusi warga Tionghoa terhadap adat Betawi bukan hal baru, melainkan bagian dari sejarah panjang pembentukan identitas Jakarta.

“Warga Tionghoa memiliki kontribusi yang luar biasa dalam adat Betawi. Akulturasi inilah yang menjadikan Jakarta sebagai kota yang penuh warna, terlihat dari tradisi, budaya, dan kehidupan masyarakatnya,” ujar Pramono.

Jejak akulturasi tersebut dapat ditemukan dalam berbagai unsur budaya Betawi, mulai dari kuliner, busana, hingga kesenian seperti gambang kromong yang memadukan instrumen Tionghoa dan Betawi.

Baca Juga: Bekasi Masuk Empat Daerah Pertama, Proyek PSEL Ditargetkan Tekan Volume Sampah dan Hasilkan Energi

Festival Imlek 2026 menjadi panggung simbolik yang memperlihatkan bagaimana percampuran budaya itu tetap hidup dan berkembang di tengah modernitas kota.

Salah satu momen paling mencuri perhatian adalah Simfoni Imlek Jakarta yang menampilkan 50 alat musik Tionghoa dimainkan secara kolosal.

Denting alat musik tradisional berpadu dengan aransemen modern, menghadirkan suasana megah di jantung ibu kota.

Baca Juga: Libur Imlek 2026, Volume Kendaraan di Tol Trans Jawa Meningkat Signifikan

Tak hanya komunitas Tionghoa, kelompok seni dari Jawa, Betawi, dan Sunda turut ambil bagian.

Mereka bersama-sama membawakan lagu-lagu berbahasa Mandarin, menciptakan pemandangan unik sekaligus mengharukan.

Perpaduan bahasa, musik, dan latar budaya yang berbeda menjadi simbol nyata harmoni lintas etnis di ruang publik.

Pramono menegaskan bahwa perayaan ini bukan sekadar seremoni, tetapi refleksi dari komitmen Jakarta sebagai kota inklusif.

“Jakarta akan menjadi kota yang inklusif, kota global, dan kota bagi siapa pun. Semua agama yang diakui pemerintah, termasuk perayaan Imlek, dirayakan bersama di Jakarta,” katanya.

Baca Juga: TP PKK Kota Bekasi Gelar Lomba Kreasi Makanan Etnik, Dorong Inovasi Pangan Lokal

Wakil Gubernur Rano Karno juga menambahkan bahwa kolaborasi budaya seperti ini memperkuat nilai toleransi di tengah masyarakat perkotaan yang majemuk.

“Kita menyelenggarakan lomba dekorasi Imlek dengan melibatkan pengelola gedung. Ini bertujuan meningkatkan keindahan dan estetika kawasan pedestrian, sekaligus memperkuat harmoni dalam keberagaman melalui akulturasi budaya Tionghoa dan Betawi yang tidak bisa dipisahkan,” jelas Rano.

Festival ini membuktikan bahwa akulturasi bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi energi yang terus menghidupkan Jakarta.

Di tengah sorotan lampion dan alunan musik tradisional, Jakarta kembali menunjukkan wajahnya sebagai kota yang dibangun dari keberagaman.***