BEKASI.POJOKSATU.ID - Maraknya informasi kesehatan mental di media sosial membawa dampak ganda bagi masyarakat, terutama kalangan muda.

Di satu sisi, kesadaran terhadap isu kesehatan mental meningkat pesat. Namun di sisi lain, fenomena self diagnose atau mendiagnosis diri sendiri tanpa bantuan profesional semakin meluas dan berisiko.

Studi terbaru mengungkap fakta mengejutkan bahwa lebih dari setengah konten kesehatan mental di media sosial ternyata tidak akurat.

Mengutip laporan Euro News, sebanyak 56 persen dari 5.000 unggahan yang membahas berbagai kondisi seperti autisme, ADHD, skizofrenia, gangguan bipolar, depresi, gangguan obsesif kompulsif, hingga gangguan kecemasan ditemukan mengandung informasi yang salah atau tidak berdasar.

Baca Juga: Pertamina Tutup Sementara Pertashop di Serang Setelah Puluhan Kendaraan Alami Gangguan Mesin

Penelitian tersebut juga menemukan bahwa misinformasi paling banyak beredar di platform TikTok.

Bahkan, sekitar 52 persen video terkait ADHD di platform tersebut dikategorikan sebagai misinformasi, sementara 41 persen lainnya dinilai tidak sepenuhnya akurat.

Penulis studi dari University of East Anglia, Inggris, Eleanor Chatburn, menyoroti bagaimana konten yang menarik secara visual sering kali lebih mudah viral meski tidak didukung fakta ilmiah yang kuat.

“Ini menunjukkan betapa mudahnya video yang menarik dapat menyebar luas secara online, bahkan ketika informasinya tidak selalu akurat,” ujarnya.

Baca Juga: WFH Diberlakukan, Tapi Layanan Publik Bekasi Tetap Jalan Normal Tanpa Gangguan

Para peneliti menganalisis 27 studi yang mengkaji keakuratan informasi kesehatan mental dan neurodivergensi di berbagai platform, seperti YouTube, TikTok, Facebook, Instagram, dan X.

Hasilnya, TikTok menjadi platform dengan tingkat misinformasi tertinggi, diikuti oleh YouTube dengan rata-rata 22 persen konten tidak akurat, sementara Facebook berada di bawah 15 persen.

Fenomena ini berdampak langsung pada perilaku pengguna, khususnya remaja. Media sosial kini menjadi sumber utama bagi banyak anak muda dalam mencari informasi tentang kesehatan mental.

Namun, tanpa penyaringan yang tepat, informasi tersebut justru dapat menyesatkan.

“Konten TikTok dikaitkan dengan meningkatkan keyakinan di kalangan anak muda bahwa mereka mungkin memiliki masalah kesehatan mental atau gangguan perkembangan saraf,” kata Chatburn.

Kondisi ini memicu meningkatnya praktik self diagnose, di mana seseorang mengidentifikasi gejala yang dialami sebagai penyakit tertentu tanpa melalui pemeriksaan profesional.

Padahal, langkah ini berisiko menimbulkan kecemasan berlebih hingga kesalahan dalam memahami kondisi diri sendiri.

Remaja menjadi kelompok yang paling rentan terhadap fenomena ini. Selain karena akses informasi yang sangat mudah, keterbatasan waktu dan biaya untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional juga menjadi faktor pendorong.

Baca Juga: DPRD Bekasi Desak Kejelasan Juknis Pilkades, Khawatir Picu Konflik di Masyarakat

Di samping itu, stigma sosial terhadap kesehatan mental masih membuat sebagian orang enggan mencari bantuan secara langsung.

Dampak self diagnose tidak bisa dianggap remeh. Selain berpotensi memperburuk kondisi psikologis, kebiasaan ini juga dapat menghambat proses penanganan yang tepat.

Bahkan, tidak sedikit kasus di mana gejala yang dirasakan sebenarnya merupakan hasil sugesti dari informasi yang dikonsumsi di media sosial.

Para ahli menekankan bahwa mencari informasi di internet boleh menjadi langkah awal, namun tidak boleh berhenti di situ.

Pemeriksaan klinis oleh tenaga profesional tetap menjadi cara paling akurat untuk mendapatkan diagnosis yang tepat.

Dengan meningkatnya arus informasi digital, masyarakat diimbau untuk lebih kritis dalam menyaring konten, khususnya yang berkaitan dengan kesehatan mental.

Tanpa kehati-hatian, informasi yang seharusnya membantu justru dapat membawa dampak yang merugikan.***