BEKASI.POJOKSATU.id — Marah, cemas, atau mengalami tekanan emosional dalam kondisi tertentu tidak hanya memengaruhi kondisi psikologis. Respons tubuh terhadap stres juga dapat berdampak pada sistem kardiovaskular dan meningkatkan risiko terjadinya serangan jantung.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dr. Hana Soraya, BMedSci (Hons), Sp.JP(K), FIHA, mengatakan stres emosional dapat menjadi salah satu pemicu serangan jantung, terutama pada orang yang memiliki faktor risiko penyakit jantung.

“Salah satu gejala dari serangan jantung adalah nyeri dada yang khas, seperti diremas, ditekan, ataupun diikat, yang muncul secara tiba-tiba. Salah satu pemicunya bisa stres emosional,” ujar dr. Hana dalam podcast bersama RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita.

Bagaimana stres memengaruhi jantung?

Ketika seseorang mengalami stres emosional, tubuh secara alami akan mengaktifkan respons terhadap tekanan dengan melepaskan hormon stres, termasuk adrenalin dan kortisol.

Respons tersebut dapat membuat denyut jantung meningkat, tekanan darah naik, dan pembuluh darah menyempit. Perubahan ini merupakan bagian dari respons tubuh terhadap kondisi yang dianggap mengancam.

Namun, pada orang yang memiliki penyakit jantung koroner, perubahan tersebut dapat memberikan beban tambahan pada sistem kardiovaskular.

Baca Juga : Buruh Bekasi Bergerak ke Jakarta Sampaikan Petisi Perlindungan Tenaga Kerja

Lonjakan tekanan darah dan denyut jantung secara tiba-tiba dalam kondisi tertentu dapat berkontribusi terhadap pecahnya plak pada pembuluh darah koroner.

Ketika plak pecah, tubuh dapat membentuk bekuan darah di lokasi tersebut. Sumbatan yang terjadi kemudian dapat menghambat aliran darah menuju otot jantung dan menyebabkan serangan jantung.

Tidak hanya karena marah

Stres emosional tidak selalu muncul dalam bentuk kemarahan. Kesedihan mendalam, kecemasan, tekanan pekerjaan, maupun persoalan pribadi juga dapat menjadi sumber tekanan emosional.

Jika berlangsung dalam waktu lama, stres juga dapat berkaitan dengan sejumlah faktor yang memengaruhi kesehatan jantung, termasuk tekanan darah dan proses peradangan dalam tubuh.

Risiko tersebut perlu menjadi perhatian terutama bagi orang yang sudah memiliki faktor risiko penyakit jantung, seperti hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, atau kebiasaan merokok.

Karena itu, menjaga kesehatan jantung tidak cukup hanya dengan memperhatikan pola makan dan aktivitas fisik. Kemampuan mengelola stres juga menjadi bagian dari pola hidup sehat.

Kenali tanda serangan jantung

Salah satu hal yang penting adalah mengenali gejala serangan jantung dan tidak mengabaikannya.

Nyeri dada yang terasa seperti ditekan, diremas, atau tertindih merupakan salah satu gejala yang perlu diwaspadai. Nyeri tersebut dapat menjalar ke lengan, leher, rahang, atau punggung.

Gejala lain yang dapat menyertai antara lain sesak napas, keringat dingin, mual, serta rasa lemas yang muncul secara mendadak.

Baca Juga : Dominasi ISPA dan DBD di Kota Bekasi, Dinkes Ungkap Karakteristik Penyakit Tiap Kecamatan

Keluhan tersebut tidak sebaiknya langsung dianggap sebagai masuk angin atau kelelahan, terutama jika muncul secara tiba-tiba.

Jika mengalami gejala yang mengarah pada serangan jantung, pemeriksaan dan pertolongan medis perlu segera dilakukan.

Mengelola stres untuk menjaga kesehatan

Mengelola stres dapat dilakukan bersamaan dengan upaya menjaga kesehatan jantung secara keseluruhan.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain berolahraga secara teratur, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, tidur yang cukup, mengenali pemicu stres, serta menjaga hubungan sosial dan dukungan dari lingkungan sekitar.

Pemeriksaan kesehatan secara berkala juga dapat membantu mengetahui faktor risiko penyakit kardiovaskular sejak dini.

Jenis pemeriksaan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing, termasuk elektrokardiogram (EKG), treadmill test, atau evaluasi risiko kardiovaskular.

Pada akhirnya, stres merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, ketika muncul keluhan seperti nyeri dada yang berat dan tiba-tiba, terlebih disertai sesak napas, keringat dingin, atau lemas, kondisi tersebut perlu segera mendapat perhatian medis.***