BEKASI.POJOKSATU.id - Film Indonesia kembali mendapat kesempatan untuk menunjukkan kualitasnya di panggung internasional. Kali ini, film Merah Sebelum Fajar karya sutradara Garin Nugroho berhasil masuk dalam kompetisi utama Tokyo International Film Festival (TIFF) 2026.
Film yang dibintangi Nicholas Saputra tersebut menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia dalam kategori Main Competition. Pencapaian ini tentu menjadi kabar membanggakan bagi industri perfilman Tanah Air, mengingat film tersebut harus bersaing dengan 14 karya lain dari berbagai negara.
Menariknya, TIFF 2026 menerima sebanyak 1.892 film dari 112 negara dan wilayah. Dari ribuan karya yang masuk, hanya 15 film yang akhirnya terpilih untuk berkompetisi dalam kategori utama.
Merah Sebelum Fajar juga telah menggelar pemutaran perdana dunia atau world premiere di Tokyo pada 27 Oktober 2026. Sutradara Garin Nugroho hadir bersama sejumlah pemain, termasuk Nicholas Saputra, Laura Basuki, Tissa Biani, dan Nagra Pakusadewo.
Film ini mengambil latar Indonesia pada 1946, tepat setahun setelah proklamasi kemerdekaan. Ceritanya mengikuti perjalanan Frans, seorang ahli geologi keturunan Indonesia-Belanda yang diperankan Nicholas Saputra.
Frans mendapat tugas membawa dokumen penting berupa data survei dari Sumatra menuju Yogyakarta, yang saat itu menjadi ibu kota sementara Republik Indonesia. Dalam perjalanan tersebut, ia tidak sendirian. Ada Qasim, mantan tentara asal India, dan Arya, seorang operator radio tunanetra.
Perjalanan mereka kemudian mempertemukan mereka dengan Fifi, seorang perawat keturunan Tionghoa, serta Bandriah, seorang penyanyi. Kelima orang dengan latar belakang berbeda itu harus menghadapi berbagai ancaman, mulai dari penangkapan oleh milisi prokemerdekaan hingga kejaran mata-mata Belanda.
Lewat cerita tersebut, Garin Nugroho mencoba memperlihatkan situasi Indonesia pada masa awal kemerdekaan yang tidak selalu berjalan sesuai harapan. Perjuangan mempertahankan kemerdekaan ternyata juga diwarnai kecurigaan, perbedaan kepentingan, dan konflik antarmanusia.
Garin mengungkapkan bahwa masih banyak pengalaman manusia dari masa awal kemerdekaan yang belum diangkat ke layar lebar. Karena itu, ia ingin menghadirkan sudut pandang berbeda tentang Indonesia pada periode yang penuh perubahan tersebut.
Menariknya, keikutsertaan Garin dalam TIFF bukanlah pengalaman pertamanya. Ia memiliki sejarah panjang dengan festival film tersebut. Pada 1994, film Surat untuk Bidadari berhasil meraih penghargaan Gold Prize, sementara Daun di Atas Bantal memperoleh Special Jury Prize pada 1998.
Sementara itu, Nicholas Saputra tidak hanya terlibat sebagai pemeran utama, tetapi juga menjadi produser film ini. Ia kembali bekerja sama dengan Garin Nugroho setelah sebelumnya terlibat dalam film Siapa Dia.
Setelah menjalani pemutaran perdana di Jepang, Merah Sebelum Fajar dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 21 Januari 2027.
Keikutsertaan film ini dalam kompetisi utama TIFF 2026 menjadi pencapaian penting bagi perfilman Indonesia. Lebih dari sekadar membawa nama Tanah Air ke festival internasional, film ini juga berusaha memperkenalkan sisi lain sejarah Indonesia yang mungkin belum banyak diketahui oleh penonton dunia.




