BEKASI.POJOKSATU.ID - Harga diri atau self-esteem menjadi fondasi penting dalam membentuk kesehatan mental dan kualitas hidup seseorang.

Cara seseorang memandang dirinya sendiri sering kali tercermin dari sikap, termasuk hal-hal yang ia minta dari orang lain.

Tanpa disadari, ada sejumlah permintaan yang justru dapat merendahkan nilai diri, baik di mata orang lain maupun diri sendiri.

Dalam perspektif psikologi, pola ini berkaitan dengan ketergantungan emosional dan kurangnya batasan diri yang sehat.

Baca Juga: Jangan Diabaikan! Kebiasaan Sepele Ini Bisa Bikin Anak Sulit Tidur Nyenyak

1. Meminta Orang untuk Tetap Tinggal dan Validasi Berulang

Salah satu bentuk yang paling sering terjadi adalah memohon seseorang untuk tetap berada dalam hidup.

Baik dalam hubungan pertemanan maupun percintaan, tindakan ini dapat menunjukkan ketergantungan emosional yang kuat.

Baca Juga: Sering Matikan Komentar di Medsos? Psikologi Ungkap 5 Perilaku Tersembunyi di Baliknya

Dalam psikologi, kondisi ini sering dikaitkan dengan attachment insecurity.

Hubungan yang sehat seharusnya dibangun atas dasar keinginan, bukan paksaan. Seseorang yang benar-benar menghargai tidak perlu diminta untuk bertahan.

Selain itu, kebiasaan meminta validasi secara terus-menerus juga menjadi tanda lain dari rendahnya harga diri.

Pertanyaan seperti “Aku cukup baik, kan?” atau “Kamu bangga sama aku?” jika terlalu sering diulang dapat menunjukkan ketergantungan pada penilaian orang lain.

2. Meminta Diperlakukan Baik dan Terlalu Sering Minta Maaf

Meminta diperlakukan dengan baik memang bukan hal yang salah. Namun, jika hal tersebut harus diminta berulang kali, itu menjadi indikator bahwa hubungan yang dijalani tidak sehat.

Dalam hubungan yang sehat, rasa hormat dan perlakuan baik adalah hal mendasar, bukan sesuatu yang harus dimohonkan.

Harga diri yang kuat membuat seseorang mampu menentukan batasan kapan harus bertahan atau memilih pergi.

Kebiasaan lain yang sering terjadi adalah meminta maaf atas hal yang bukan kesalahan sendiri.

Sikap ini kerap muncul demi menjaga suasana tetap damai, tetapi dalam jangka panjang bisa merusak identitas diri.

Psikologi menunjukkan bahwa terlalu sering meminta maaf tanpa alasan dapat menciptakan pola people-pleasing dan menurunkan rasa percaya diri.

Baca Juga: Tren Diet Detoks Kian Populer, Ahli Ungkap Risiko dan Fakta Sebenarnya yang Jarang Diketahui

3. Meminta Kesempatan Berulang dan Memohon untuk Dipahami

Setiap orang memang layak mendapatkan kesempatan kedua. Namun, jika seseorang terus-menerus memohon kesempatan yang sama setelah berulang kali gagal, hal ini bisa menunjukkan kurangnya batasan diri.

Dalam konteks hubungan, penting untuk memahami bahwa kesempatan adalah bentuk kepercayaan, bukan sesuatu yang harus diminta tanpa batas.

Hal serupa juga terjadi ketika seseorang terus berusaha menjelaskan dirinya tanpa adanya usaha dari pihak lain untuk memahami. Komunikasi yang sehat seharusnya berjalan dua arah.

Jika hanya satu pihak yang berjuang, kondisi ini dapat memunculkan perasaan tidak dihargai dan tidak terlihat.

4. Mencari Perhatian dan Kehilangan Jati Diri

Meminta perhatian dari orang yang jelas tidak peduli juga menjadi salah satu tanda rendahnya harga diri.

Baca Juga: Program Kelurahan Cantik Resmi Dicanangkan di Medan Satria, Aparatur Dituntut Melek Data

Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai intermittent reinforcement, di mana perhatian yang tidak konsisten justru membuat seseorang semakin terikat secara emosional.

Padahal, perhatian yang tulus tidak perlu dikejar atau diminta secara berlebihan.

Yang paling mendasar adalah ketika seseorang merasa perlu meminta izin untuk menjadi dirinya sendiri.

Baik dalam mengekspresikan diri maupun mengambil keputusan, hal ini menunjukkan adanya tekanan terhadap identitas pribadi.

Psikologi menekankan bahwa self-acceptance atau penerimaan diri adalah kunci utama kesejahteraan mental.

5. Pentingnya Menjaga Harga Diri

Menjaga harga diri bukan berarti menjadi egois atau menutup diri dari orang lain.

Baca Juga: 60 Persen ASN Bekasi WFH, 40 Persen Tetap Layani Warga, Begini Skema Kerja 25 Ribu Aparatur

Justru sebaliknya, ini tentang memahami nilai diri dan tidak menukarnya dengan penerimaan yang bersifat sementara.

Apa yang diminta dari orang lain sering kali mencerminkan bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri.

Oleh karena itu, penting untuk mulai dari dalam—menghargai diri, menetapkan batasan, dan percaya bahwa setiap individu layak mendapatkan perlakuan terbaik tanpa harus memohon.***