BEKASI.POJOKSATU.id - Selama karirnya menulis Goenawan Mohamad telah menelurkan beragam karya. Beragam isu telah dia tulis dan komentari.

Hasilnya, hampir seperti perenungan pemikiran yang kaya dan mendalam. Meskipun tak semua disambut khalayak, beberapa karyanya mendapatkan sambutan baik hingga diganjar penghargaan.

Pengalaman belasan tahun menjadi wartawan, dengan latar pendidikan luar negeri, serta bacaanya yang luas, menjadikan setiap karyanya selalu berdimensi. Mengandung makna yang dapat direfleksikan oleh pembacanya.

Baca Juga: Biodata dan Karir Goenawan Mohamad, Sastrawan dan Pendiri Majalah Tempo

Melalui karya-karyanya itu Goenawan Mohamad kerap dianggap sebagai seorang esais, pengarang sastra yang berpengaruh. Karya-karyanya beragam mulai dari puisi, esai, naskah drama, novel, buku filsafat, hingga menerjemahkan buku.

Dari itu semua belakangan dia dikaitkan dengan wacana untuk dinominasikan di Penghargaan Nobel untuk Kesusastraan.

Beragam pengakuan muncul baik secara verbal maupun penghargaan. Menjadikannya seorang yang menempatkan dirinya sebagai seorang pengarang yang tulisanya layak dibaca dengan kualitas yang tidak bisa dianggap remeh.

Baca Juga: Goenawan Mohamad Tak Bergeming Meski Diisukan Masuk Nominasi Penghargaan Nobel untuk Kesusastraan

Lantas, selama berkarya apa saja karya Goenawan Mohamad serta apa saja penghargaan yang dia dapatkan.

berikut ini sepuluh karya terpentingnya yang layak dibaca. beberapa dari karya tersebut membawanya memenangkan penghargaan dalam rentan waktu yang cukup panjang.

Pariksit

Merupakan kumpulan puisi yang ditulis oleh Goenawan Mohamad. Karya ini merupakan karya pertamanya dimana sebagian isinya telah diterbitkan di majalah sastra yang dia asuh, yaitu Majalah Horison.

Di kumpulan puisi ini terdapat beberapa puisi yang mendapat sambutan umum dan cukup populer. Di antaranya "Dingin Tak Tercatat" dan "Di Beranda ini Angin Tak Kedengaran Lagi".

Karyanya ini pertama kali diterbitkan secara utuh oleh penerbit Litera pada tahun 1971.

Interlude

Buku kecil yang terdiri dari 33 halaman ini ingin menceritakan bahwa "kenangan" biasa sangat biasa saja.

Baca Juga: Komite SMPN 25 Bekasi Coret Buku Tahunan Imbas Komplain Wali Murid

Namun, juga bisa sangat sentimentil. Sebagai penulis sastra, dalam hal ini sajak dan puisi kelihaian Goenawan Mohamad dapat dibaca dalam karyanya ini.

Kumpulan Puisi Interlude diterbitkan oleh Yayasan Indonesia Jakarta pada November 1973.

Catatan Pinggir

Sebuah kumpulan tulisan dari rubrik majalah Tempo yang ditulis oleh Goenawan Mohamad sejak 1976. Sejauh ini Catatan Pinggir yang telah ditulis sudah sebanyak 15 edisi, terbitan terbaru mengudara pada Juni tahun 2023 lalu.

Asmaradana: Pilihan sajak, 1961-1991

Pada tulisanya ini Goenawan Mohamad hendak mengeksplorasi tema pewayangan Jawa. Dengan mengangkat kisah percintaan antara Damarwulan dengan Anjasmara.

Melalui Asmaradana tema seputar kesetiaan, kisah cinta, kesunyian sukses digarap olehnya. Karyanya ini menarik dan hingga kini masih dapat dinikmati oleh pembaca.

Sajak-sajak Lengkap 1961-2001

Kumpulan puisi yang dibukukan setebal 216 halaman ini terbit tahun 2001. Kumpulan puisi ini memuat hampir seluruh puisi yang sebelumnya telah diterbitkan seperti puisi-puisi di edisi Pariksit.

Melalui karyanya ini Goenawan Mohamad memenangkan Kusala Sastra Khatulistiwa di tahun yang sama.

Selain itu di bidang sastra dia juga pernah memenangkan anugerah sastra dan David Prize pada tahun 2006 bersama dengan esais dan pejuang kemerdekaan asal Polandia Adam Michnik.

Pada periode 90an Goenawan Mohamad beberapa kali memenangi penghargaan dari luar negeri atas kerja-kerja yang dia lakukan.

Beberapa di antaranya Penghargaan Professor Teeuw dari Leiden University Belanda (1992), lalu memenangi Louis Lyons dari Harvard University Amerika Serikat (1997), setahun berselang dia mendapatkan penghargaan Jurnalis (Committee to Protect Journalists) (1998), hingga pada Mei 1999 Internasional Editor (International Editor of the Year Award) dari World Press Review, Amerika Serikat.***