BEKASI.POJOKSATU.ID - Ramainya anjuran sahur tanpa nasi atau bahkan tanpa karbohidrat kembali menjadi perbincangan publik selama Ramadan.

Sebagian orang meyakini bahwa menghindari nasi saat sahur membuat tubuh terasa lebih ringan dan tidak cepat lapar.

Namun, tidak sedikit pula yang khawatir tubuh akan kekurangan energi karena tidak mendapat asupan karbohidrat sebagai sumber utama glukosa.

Baca Juga: Komisi III DPRD Kota Bekasi Kritik Alih Fungsi Kios Pasar Bintara Jadi Kafe

Dokter spesialis gizi, Johanes Chandrawinata, menjelaskan bahwa secara medis sahur tanpa nasi bukanlah masalah bagi orang sehat.

Menurutnya, tubuh memiliki sistem pengaturan gula darah yang bekerja secara otomatis dan ketat untuk menjaga kadarnya tetap dalam batas normal.

“Sahur tanpa nasi tidak masalah karena gula darah dijaga ketat oleh berbagai mekanisme dalam tubuh agar tidak turun di bawah normal,” ujar Johanes.

Baca Juga: Komisi III DPRD Kota Bekasi Ancam Sanksi Pedagang yang Naikkan Harga Sepihak Jelang Lebaran

Ia menilai, kekhawatiran bahwa tubuh akan langsung kekurangan energi jika tidak mengonsumsi nasi saat sahur tidak sepenuhnya tepat.

Saat berpuasa, tubuh memang tidak mendapatkan asupan makanan dan minuman selama belasan jam. Namun, bukan berarti tubuh langsung kehabisan sumber energi.

Johanes menjelaskan bahwa tubuh memiliki cadangan glukosa dalam bentuk glikogen yang tersimpan di otot dan hati.

Baca Juga: Kirab Cap Go Meh Digelar Saat Ramadhan, Bekasi Tunjukkan Toleransi Nyata di Tengah Perbedaan

Cadangan inilah yang akan digunakan terlebih dahulu ketika tidak ada asupan makanan dari luar.

“Glukosa darah bila diperlukan dapat dibentuk oleh tubuh dari cadangan gula otot (glikogen) dan cadangan di hati,” jelasnya.

Jika cadangan tersebut mulai menipis, tubuh memiliki mekanisme lanjutan untuk menjaga kadar gula darah tetap stabil.

Proses adaptasi metabolik memungkinkan tubuh membentuk glukosa dari sumber lain seperti lemak dan protein.

“Bila cadangan habis, tubuh dapat membuat glukosa dari lemak dan protein tubuh,” tambah Johanes.

Baca Juga: Rp176 Miliar THR ASN Bekasi Siap Cair, Dongkrak Perputaran Ekonomi Jelang Lebaran 1447 H

Proses ini menunjukkan bahwa tubuh memiliki sistem pertahanan alami saat menghadapi kondisi puasa.

Dalam beberapa jam pertama puasa, tubuh akan memanfaatkan cadangan glikogen.

Setelah itu, secara bertahap tubuh beralih menggunakan lemak sebagai sumber energi alternatif.

Baca Juga: Dinsos Bekasi Pastikan Pasien Tetap Dirawat Meski Status JKN Sempat Nonaktif

Karena itu, tidak mengonsumsi nasi saat sahur bukan berarti tubuh otomatis kekurangan glukosa.

Justru menurut Johanes, persoalan sering muncul ketika seseorang mengonsumsi karbohidrat sederhana dalam jumlah besar, terutama nasi putih dengan porsi berlebihan.

“Malahan konsumsi karbohidrat yang banyak dan rendah serat seperti nasi putih cenderung meningkatkan rasa lapar 1-2 jam setelah sahur,” katanya.

Baca Juga: Kuota Mudik Gratis Jabar 2026 Hampir Habis, Tinggal 660 Kursi Tersisa dari 3.040

Lonjakan gula darah yang cepat akibat konsumsi karbohidrat sederhana dapat diikuti penurunan yang sama cepatnya.

Kondisi ini memicu rasa lapar dan lemas di pagi hari, meskipun baru saja makan sahur.

Johanes menekankan bahwa yang perlu diperhatikan bukan sekadar ada atau tidaknya nasi, melainkan jenis dan porsinya.

Jika tetap ingin mengonsumsi karbohidrat, ia menyarankan memilih jenis karbohidrat kompleks atau karbohidrat lepas lambat yang diserap lebih perlahan oleh tubuh.

Karbohidrat seperti nasi merah, talas, atau nasi campur jagung dapat membantu menjaga kestabilan gula darah lebih lama selama puasa. Porsinya pun tidak perlu berlebihan.

“Porsinya 1/4 piring diameter 20 cm,” jelasnya.

Baca Juga: 113.800 Peserta PBI JK Sempat Dinonaktifkan, Dinsos Bekasi Sebut 1.788 Sudah Aktif Kembali

Selain karbohidrat, asupan protein juga memegang peranan penting dalam menjaga rasa kenyang lebih lama serta mendukung fungsi tubuh selama puasa.

Protein membantu memperlambat proses pengosongan lambung sehingga energi dilepaskan lebih stabil.

Johanes mengingatkan bahwa setiap orang memiliki kebutuhan energi yang berbeda, tergantung pada usia, kondisi kesehatan, dan tingkat aktivitas fisik.

Baca Juga: 12 Ribu PNS dan 13 Ribu PPPK Bekasi Siap Terima THR, Total Anggaran Rp176 Miliar

Orang dengan aktivitas berat tentu memerlukan asupan energi lebih besar dibanding mereka yang beraktivitas ringan.

Pada prinsipnya, sahur tanpa nasi bukanlah sesuatu yang berbahaya bagi orang sehat.

Yang terpenting adalah memastikan asupan tetap seimbang, cukup cairan, serta tidak berlebihan dalam konsumsi makanan tertentu.

Mengurangi nasi boleh saja, asalkan diganti dengan sumber nutrisi lain yang tepat dan direncanakan dengan baik.***