BEKASI, POJOKSATU.id - Kota Bekasi tidak hanya dikenal sebagai kota satelit yang padat, melainkan juga wilayah yang kaya akan nilai historis. Salah satu bukti otentik yang menjadi saksi bisu dinamika peradaban masyarakat di sini adalah Masjid Al Barkah Bekasi.
Berdiri megah di jantung kota, tepatnya di kawasan Alun-Alun Kota Bekasi, Jalan Veteran, Kelurahan Margajaya, Kecamatan Bekasi Selatan, Kota Bekasi. Masjid ini menyimpan narasi panjang transisi ruang religius dari era kolonial Hindia Belanda hingga masa kemerdekaan Indonesia.
Asal-usul Berdiri: Bermula dari Surau Tanah Wakaf tahun 1890
Jejak sejarah Masjid Al Barkah Bekasi tercatat dimulai pada tahun 1890. Pada mulanya, bangunan ini sama sekali belum megah seperti sekarang, melainkan hanya sebuah surau sederhana. Rumah ibadah ini dipelopori oleh seorang penghulu Landraad (pengadilan pada era kolonial) bernama Haji Abdul Hamid.
Pembangunan surau tersebut memanfaatkan tanah wakaf seluas 3.370 meter persegi yang diserahkan oleh seorang tokoh masyarakat lokal bernama Haji Bachroem (atau Bahrum). Keberadaan surau ini diperkirakan dibangun beriringan dengan langkah pemerintah kolonial Hindia Belanda yang mulai menata kawasan alun-alun serta pusat administrasi lokal di Bekasi. Sejak awal didirikan, tempat ibadah ini sudah disematkan nama "Al-Barkah".
Menjadi Posko Strategis dan Tempat Singgah Bung Karno
Fungsi Masjid Al Barkah Bekasi meluas ketika roda revolusi kemerdekaan berputar. Masjid ini tidak lagi sekadar menjadi tempat penunaian ibadah mahdah ritual semata, melainkan menjadi basis konsolidasi kemerdekaan.
Catatan sejarah daerah mengonfirmasi bahwa tokoh pahlawan nasional asal Bekasi, Kiai Haji Noer Ali kerap memanfaatkan area sekitar masjid ini untuk mengumpulkan massa rakyat dan menyusun strategi perlawanan gerilya melawan tentara sekutu dan NICA.
Lebih jauh lagi, sehari sebelum teks proklamasi dibacakan di Jakarta, tepatnya pada 16 Agustus 1945, Presiden pertama RI, Ir. Soekarno, sempat singgah dan menunaikan ibadah di surau Al-Barkah ini dalam rangkaian perjalanan bersejarah menuju Rengasdengklok.
Transformasi Arsitektur Menuju Kemegahan Modern
Seiring perubahan status administratif Bekasi, bangunan fisik masjid terus mengalami pembaruan struktural.
Tahun 1967: Di bawah kepemimpinan Bupati Bekasi pertama asal Kampung Gabus, MS. Subandi, struktur bangunan surau direhabilitasi secara gotong royong dengan melibatkan sumbangan rakyat.
Tahun 2004-2008: Restorasi total paling masif terjadi pada era Wali Kota Bekasi Achmad Zurfaih. Lahan masjid diperluas menjadi sekitar 1,1 hektar terintegrasi penuh dengan penataan Alun-Alun Kota
Saat ini, wajah arsitektur Masjid Al Barkah Bekasi mengusung konsep perpaduan Timur Tengah kontemporer dan corak Nusantara. Kehadiran empat menara setinggi 35 meter yang mengapit kubah besar berwarna biru safir kini menjadi landmark ikonik yang mempertegas identitas Bekasi sebagai kota yang religius dan menghargai sejarahnya.



