BEKASI.POJOKSATU.id - Netflix menghadirkan The Mosquito Bowl, film perang berlatar Perang Dunia II yang terinspirasi dari kisah nyata para atlet football kampus Amerika Serikat yang masuk dinas Marinir. Film garapan Peter Berg ini tayang terbatas di bioskop Amerika Serikat sejak 30 Oktober 2026, dan dijadwalkan hadir di Netflix pada 25 November 2026. Sebelumnya, film ini menjalani pemutaran perdana dunia di AFI Fest pada 22 Oktober.
Ceritanya diadaptasi dari buku karya Buzz Bissinger, penulis Friday Night Lights, berjudul The Mosquito Bowl: A Game of Life and Death in World War II yang terbit pada 2022. Film ini mengikuti empat bintang football kampus yang meninggalkan ketenaran mereka dan mendaftar menjadi Marinir setelah serangan Pearl Harbor.
Sebelum terjun ke invasi Okinawa, mereka bermain dalam sebuah pertandingan legendaris yang dikenal sebagai Mosquito Bowl, yang dimainkan para Marinir pada malam Natal 1944 di Guadalcanal, dan bagi banyak dari mereka menjadi laga terakhir.
Jajaran pemerannya diperkuat Nicholas Galitzine sebagai John McLaughry, Bill Skarsgård, Ray Nicholson sebagai Tony Butkovich, dan Scott Lee. Naskahnya ditulis Peter Berg bersama Mark L. Smith, dengan Imagine Entertainment dan Film 44 sebagai rumah produksi. Para aktor menjalani pelatihan ala militer sekaligus latihan football untuk mempersiapkan peran mereka. Berdurasi sekitar 2 jam 7 menit, film ini berating R.
Berg menegaskan bahwa film ini bukanlah film olahraga, melainkan film perang yang kebetulan berisi para pemain football di tengah medan perang. Pertandingan Mosquito Bowl sendiri hanya menempati porsi kecil dalam cerita, dan hal itu disebutnya disengaja. Bagi Berg dan Bissinger, proyek ini juga terasa personal karena ayah keduanya adalah mantan Marinir, dengan ayah Bissinger bertugas di Pasifik, termasuk Okinawa.
Perlu dicatat, film ini mengubah sejumlah detail sejarah demi keperluan cerita. Salah satu ulasan mencatat bahwa film mengarang sebuah pertandingan yang tidak pernah terjadi agar keempat tokoh utamanya sudah saling kenal sebelum Pearl Harbor.
Respons kritikus pun beragam. Sebagian menilai film ini lebih berhasil sebagai film football ketimbang film pertempuran, dengan adegan kekerasan yang intens tetapi gambaran perang yang dianggap kurang realistis. Sementara itu, sebagian penonton memuji aktingnya dan menyebutnya sebagai kisah manusiawi tentang kebersamaan menghadapi kematian.




