BEKASI.POJOKSATU.id - Sekitar 1.500 hektare lahan pertanian di Kabupaten Bekasi terancam mengalami gangguan produksi pada musim kemarau 2026 akibat terganggunya distribusi air irigasi di Saluran Sekunder (SS) Balong Tua.
Pendangkalan saluran akibat sedimentasi serta keberadaan bangunan liar di sepanjang bantaran saluran menyebabkan aliran air menuju area persawahan di Kecamatan Sukatani, Tambelang, dan Sukawangi tidak berjalan optimal.
Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Bekasi Asep Surya Atmaja mengatakan kondisi tersebut berpotensi mengancam ketahanan pangan daerah apabila tidak segera ditangani.
“Yang terdampak hampir 1.500 hektare. Saat ini musim kemarau dan aliran air dari kali sekunder tidak lancar karena sedimentasi yang sudah tinggi ditambah adanya bangunan liar yang menghambat normalisasi,” kata Asep saat meninjau SS Balong Tua, Jumat, 19 Juni 2026.
Baca Juga: BPJS Ketenagakerjaan dan Pemprov Jabar Salurkan Rp49,3 Miliar untuk Program Jaminan Sosial
Menurutnya, sebagian lahan pertanian bahkan berpotensi tidak dapat ditanami apabila pasokan air terus menurun.
“Air tidak sampai ke sawah. Kalau air tidak sampai, petani tidak bisa panen. Bahkan ini bukan sekadar gagal panen, tetapi ada lahan yang berpotensi tidak bisa ditanami sama sekali,” ujarnya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemerintah Kabupaten Bekasi bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) berencana melakukan normalisasi saluran sepanjang sekitar 4,5 kilometer guna memulihkan fungsi irigasi.
Normalisasi diharapkan mampu memperlancar distribusi air ke lahan pertanian dan mencegah kerugian yang lebih besar bagi ribuan petani di wilayah terdampak.***




