BEKASI.POJOKSATU.id - Saat melewati jembatan penghubung EJIP dan MM 2100, Kabupaten Bekasi, tengoklah ke arah utara. Tak ada lagi bambu, seng, dan berbagai material yang sedianya berada di sana.

Di sana sekarang sudah tidak ada apa-apa lagi selain rangka jembatan buntung. Di sanalah selama 10 tahun lebih berdiri Omah Buruh Bekasi, basis perjuangan buruh Bekasi.

Letaknya yang berada di dekat 4 kawasan industri memang dibilang strategis. Omah Buruh beridiri tepat pada 12 Februari 2012. Tempat ini dekat dengan Kawasasan Industri MM2100, East Jakarta Industrial Park (EJIP), Kawasan Industri Hyundai, dan Kawasan Industri Delta Silicon.

Baca Juga: Ini Alasan Buruh Bekasi Sepakat Relokasi Omah Buruh

Aksi puncak buruh Bekasi adalah bagian dari perjuangan buruh di Indonesia pada 2012. Tanggal 26 Januari 2012, massa buruh menutup akses menuju Tol Jakarta-Cikampek. Tak tanggung-tanggung yang ditutup mencapai 7 akses tol.

Kemacetan berkilo-kilo terjadi dan kerugian miliaran akibat hal itu tak dapat terhindarkan. Bahkan Menteri Tenaga Kerja Muhaimin Iskandar sampai turun menemui massa buruh saat itu.

Sejak Omah Buruh berdiri, massa buruh Bekasi menjadikan tempat itu sebagai tempat konsolidasi, diskusi, dan persiapan jelang aksi. Dalam hari-hari tanpa aksi, tak jarang beberapa orang datang ke sana hanya untuk mencicipi kopi.

Tempat ini pun pernah menjadi bulan-bulanan kelompok tidak bertanggung jawab pada 19 September 2012 dan berulang pada 29 Oktober 2012.

LIHAT JUGA: Galeri Foto Omah Buruh tahun 2012-2023

"Hari ini Omah Buruh di Bekasi dirusak oleh ormas . .. dari surat yang mereka berikan kepada PUK, ternyata malah mencerminkan bahwa tindakan mereka tidak lebih baik dari biang rusuh ...," tulis pengguna Facebook Agustia Rahmawati pada 29 Oktober 2012.

Baca Juga: Omah Buruh Dibongkar, Bakal Pindah ke Kawasan Lippo Cikarang

Ketua Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FPSMI) Jawa Barat, Suparno, menjelaskan Omah Buruh hadir dengan memfungsikan jembatan yang buntung dan tak berfungsi itu.

"Omah Buruh itu berdiri di atas dasar jembatan itu tidak ada fungsi. Akhirnya teman-teman buruh memanfaatkan jembatan itu untuk konsolidasi," kata dia.

Jembatan itu milik Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan sejak lama akan difungsikan untuk menghubungkan 2 kawasan industri, yaitu Kawasan Industri MM2100 di Cikarang Barat, dan EJIP serta Delta Silicon di Cikarang Selatan.

Wacana relokasi bergulir sejak lama, tapi tak pernah ada kata sepakat karena Pemkab Bekasi dinilai tidak dapat mengakomodasi keinginan massa buruh atas kriteria Omah Buruh yang baru.

Setelah kesepakatan tercapai, massa buruh pun merelokasi Omah Buruh itu. Tempat baru Omah Buruh itu nantinya berada di kawasan Delta Silicon 8, Cikarang Selatan.

"Di situ ada lahan fasos-fasum punya Pemerintah Kabupaten Bekasi yang bisa merelokasi Omah Buruh.Awal kita minta 5 ribu meter , akhirnya dikasih 3 ribu meter dengan catatan yang bangun adalah Pemerintah Kabupaten Bekasi," kata dia.

Parno menegaskan Omah Buruh yang ada sejak tahun 2012 adalah sejarah pergerakan buruh menghapus outsourcing di Kabupaten Bekasi. Dari Omah Buruh muncul pergerakan grebek pabrik.

Baca Juga: Jawa Barat Kunci Pemenangan Partai Buruh

"Tempat perjuangan buruh yang ada di Bekasi simbolnya ya Omah Buruh. Omah Buruh tidak hanya dikenal di Indonesia tapi ditingkat Internasional. Mulai dari tamu Australia hingg Jerman ingin melihat seperti apa Omah Buruh," ucap Parno.

Dia juga menjelaskan nanti akan didirikan monumen di tempat itu sebagai pengingat bahwa di tempat ini pernah berdiri basis perjuangan massa buruh.

Sebelum ada jembatan penghubung di sisi utara, setiap pagi dan sore di dekat Omah Buruh selalu ramai para pemotor yang mayoritas merupakan pekerja.

Mereka hendak menyeberang melewati jembatan perahu. Jembatan itu tidak ada lagi pada kurun waktu 2015 dan 2016.

Sementara itu, di sisi lainnya banyak massa buruh yang menikmati petang sembari menunggu malam untuk menyeruput segelas kopi hangat.

Omah Buruh tidak benar-benar hilang, hanya berpindah tempat. Akan tetapi, jembatan itu bakal tetap mengenang banyaknya suara-suara langkah kaki dan keriuhan di setiap harinya, saat buruh masih berteduh di sana.***