BEKASI.POJOKSATU.ID - Banjir yang melanda sejumlah wilayah Kabupaten Bekasi kembali berdampak pada dunia pendidikan.
SMPN 4 Cikarang Barat terendam banjir sejak Minggu 18 Januari 2026, memaksa pihak sekolah menghentikan kegiatan belajar mengajar tatap muka dan mengalihkan seluruh proses pembelajaran secara daring.
Kondisi ini memicu keluhan serta harapan dari para wali murid yang menilai banjir di sekolah tersebut sudah berulang dan membutuhkan penanganan serius.
Baca Juga: HUT ke-17 Radar Bekasi, Tri Adhianto Apresiasi Peran Media Lokal dalam Demokrasi Daerah
Kepala SMPN 4 Cikarang Barat, Deary Ratnaningsih, mengungkapkan bahwa genangan air belum sepenuhnya surut hingga Senin 19 Januari 2026.
Ketinggian air di area sekolah bervariasi, mulai dari sekitar 30 sentimeter di bagian depan hingga hampir setinggi paha orang dewasa di bagian belakang sekolah.
"Ketinggian awal dari ujung gerbang kurang lebih 30 cm. Kalau sampai belakang hampir sepaha orang dewasa," ujar Deary.
Baca Juga: Roots Day di SMPN 17 Bekasi, Pemkot Tegaskan Komitmen Cegah Perundungan di Sekolah
Banjir tersebut merendam sebanyak 29 ruang kelas beserta perabotan sekolah.
Tak hanya itu, ruang guru, tata usaha, hingga ruang kepala sekolah juga ikut terdampak.
Akibat kondisi tersebut, sebanyak 1.032 siswa terpaksa mengikuti pembelajaran jarak jauh demi menjaga keselamatan.
Baca Juga: Dekranasda Kota Bekasi Terima Kunjungan DPRD Banten, Perkuat Sinergi Pengembangan UMKM
Deary menegaskan, kegiatan tatap muka baru akan kembali dilaksanakan setelah kondisi sekolah dinyatakan aman dan seluruh genangan benar-benar surut.
"Berdasarkan surat edaran dari dinas, guru yang terdampak banjir menjalani WFH. Sementara siswa tetap belajar dari rumah secara daring menggunakan aplikasi CIMIT, Zoom, Google Sheet, Google Form, maupun WhatsApp," jelasnya.
Di sisi lain, keluhan datang dari para wali murid yang khawatir banjir akan terus mengganggu proses pendidikan anak-anak mereka.
Saputra (43), salah satu wali murid, mengatakan bahwa anaknya yang duduk di kelas VII tetap menerima tugas sesuai jadwal, meski belajar dari rumah.
Namun, ia menilai kondisi sekolah yang kerap kebanjiran perlu mendapat perhatian serius.
Baca Juga: Bukan Sekadar Ngopi, Program Inovasi Ini Jadi Ruang Curhat Pegawai Tirta Bhagasasi
"Anak saya baru kelas 7. Intinya kalau harus masuk sekolah dengan kondisi air banjir yang tinggi itu bahaya. Walaupun nanti surut, masih khawatir ada bekas keong atau benda tajam. Yang penting sekarang anak tidak ketinggalan pelajaran," tuturnya.
Saputra juga mendesak pemerintah daerah agar segera membenahi sistem drainase di sekitar sekolah dan permukiman warga.
Menurutnya, buruknya drainase menjadi penyebab utama akses menuju sekolah kerap terendam setiap kali hujan deras turun.
Baca Juga: Tak Ingin Warga Kehilangan Akses Layanan, Bekasi Bidik 900 Ribu Peserta JKN Pusat
"Harapannya ada perhatian dari pemerintah daerah ataupun swasta melalui CSR untuk membenahi drainase, supaya ke depannya tidak lagi banjir separah ini," tandasnya.
Banjir yang kembali merendam SMPN 4 Cikarang Barat menjadi pengingat bahwa persoalan infrastruktur dasar, khususnya drainase, masih menjadi pekerjaan rumah besar.
Wali murid berharap, penanganan tidak lagi bersifat sementara, melainkan solusi jangka panjang agar kegiatan belajar siswa tidak terus terganggu setiap musim hujan.***




