BEKASI.POJOKSATU.id - Dua puluh satu tahun silam, tragedi longsor sampah di TPA Leuwigajah, Kabupaten Bandung, menelan 157 korban jiwa. Peristiwa tersebut kini diperingati sebagai Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN).

Dalam rangka HPSN 2026, warga sekitar TPA Burangkeng, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, menggelar doa bersama untuk mengenang para korban yang mayoritas berprofesi sebagai pemulung. Selain mendoakan korban, warga juga memanjatkan doa demi keselamatan masyarakat di sekitar TPAS Burangkeng.

Kegiatan ini diinisiasi oleh Prabu Peduli Lingkungan dengan melibatkan masyarakat, Pemerintah Desa Burangkeng, serta tokoh setempat.

Baca Juga: Komunitas Pemulung dan Pelapak Pilah Burangkeng Resmi Berdiri, Deklarasi di TPA Burangkeng

Ketua Prabu Peduli Lingkungan, Carsa Hamdani, menilai tragedi Leuwigajah bukan semata bencana alam.

"Kejadian TPA Leuwigajah itu sebenarnya bukan bencana alam, tapi bencana yang dibuatkan manusia. Imbas kurang tertatanya TPAS," kata Carsa.

Sekretaris Desa Burangkeng, Ali Gunawan, mengapresiasi penyelenggaraan HPSN 2026 yang digagas Prabu Peduli Lingkungan. Namun ia menegaskan bahwa penanganan persoalan sampah membutuhkan keterlibatan semua pihak.

“Tentunya, tidak akan berjalan kalau hanya dilakukan Prabu PL sendiri. Butuh peran semua pihak,” tuturnya.

Ia juga optimistis kehadiran simpul Prabu Peduli Lingkungan di Kabupaten Bekasi dapat memperkuat gerakan advokasi dan solusi terkait persoalan persampahan.

Kegiatan yang dimulai pukul 16.40 WIB itu turut dihadiri tokoh agama, Bimaspol, Babinsa, serta para aktivis lingkungan setempat dalam suasana khidmat dan penuh refleksi.***