BEKASI.POJOKSATU.ID - BPBD Kabupaten Bekasi meminta warga Kecamatan Bojongmangu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi longsor susulan menyusul peristiwa tanah longsor yang terjadi di lima titik wilayah tersebut.

Meski pengkajian kebutuhan pascabencana (Jitupasna) telah rampung, ancaman pergerakan tanah dinilai masih ada, terutama saat hujan deras kembali mengguyur kawasan perbukitan itu.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bekasi, Muchlis, mengatakan pihaknya masih terus melakukan pemantauan terhadap kondisi tanah di sejumlah titik terdampak.

Baca Juga: Mudik Gratis BTN 2026 Resmi Dibuka! Kuota 3.500 Pemudik Siap Berangkat 17 Maret, Rute Jawa hingga Sumatera

Karakteristik wilayah Bojongmangu yang berbukit dengan sistem drainase terbatas membuat risiko longsor tidak bisa diabaikan.

“Kami minta masyarakat segera melapor jika melihat ada retakan baru di tanah atau dinding rumah. Penanganan dini sangat penting untuk mencegah kerugian yang lebih besar atau adanya korban jiwa,” ujar Muchlis, dikutip dari Radar Bekasi, Senin 23 Februari 2026.

Menurutnya, longsor sebelumnya dipicu curah hujan tinggi yang terjadi dalam kurun waktu 18 hingga 28 Januari 2026.

Baca Juga: Jalan Rusak di Mustika Jaya Picu Risiko Kecelakaan, Pemkot Bekasi Siapkan Perbaikan Maksimal

Intensitas hujan yang tinggi menyebabkan air meresap berlebihan ke dalam tanah dan melemahkan struktur pondasi bangunan warga maupun fasilitas publik.

Air yang tidak mengalir melalui saluran drainase dengan baik justru menekan struktur tanah, sehingga memicu pergerakan yang berujung longsor.

Kondisi tersebut membuat beberapa bangunan mengalami kerusakan, termasuk rumah warga dan fasilitas pendidikan.

Baca Juga: Polsek Bekasi Utara Bongkar Peredaran Obat Daftar G di Kaliabang Tengah

Muchlis menegaskan bahwa kewaspadaan warga menjadi kunci utama dalam mencegah dampak lebih besar.

Ia mengimbau masyarakat agar tidak mengabaikan tanda-tanda awal seperti munculnya retakan di lantai, dinding, halaman, atau pergeseran kecil pada struktur bangunan.

“Retakan kecil sering dianggap sepele. Padahal itu bisa menjadi indikator awal adanya pergerakan tanah. Kalau dilaporkan lebih cepat, kita bisa lakukan asesmen dan langkah pengamanan,” katanya.

BPBD juga berkoordinasi dengan perangkat desa dan kecamatan untuk mempercepat penyampaian informasi jika terjadi kondisi darurat.

Petugas di lapangan disiagakan untuk merespons laporan warga, terutama saat hujan turun dengan intensitas tinggi dan durasi lama.

Baca Juga: Polres Metro Bekasi Gelar Patroli Gabungan Awasi Operasional THM

Selain pemantauan, BPBD telah menyalurkan bantuan logistik kepada warga terdampak serta memberikan rekomendasi teknis kepada dinas terkait untuk penanganan lebih lanjut.

Namun demikian, upaya mitigasi jangka panjang tetap membutuhkan kerja sama lintas sektor dan partisipasi aktif masyarakat.

Wilayah perbukitan seperti Bojongmangu memang memiliki kerentanan tinggi terhadap bencana hidrometeorologi.

Baca Juga: Dialog di SMAN 8 Kota Bekasi, Ade Puspitasari: Sukses Tak Instan, Butuh Proses dan Disiplin

Karena itu, edukasi kebencanaan dan kesiapsiagaan warga dinilai menjadi langkah preventif yang sangat penting.

Muchlis kembali mengingatkan bahwa keselamatan warga harus menjadi prioritas utama.

Ia berharap masyarakat tidak ragu melapor apabila melihat tanda-tanda mencurigakan di lingkungan sekitar.

“Kami tidak ingin ada korban jiwa. Lebih baik melapor meskipun ternyata bukan sesuatu yang berbahaya, daripada terlambat mengambil tindakan,” tandasnya.

Dengan kondisi cuaca yang masih berpotensi hujan, BPBD Kabupaten Bekasi meminta warga tetap siaga dan menjaga komunikasi dengan aparat setempat demi meminimalkan risiko bencana susulan.***