BEKASI.POJOKSATU.ID - Lonjakan kebutuhan obat dan bahan medis habis pakai di Kabupaten Bekasi kini memicu krisis fasilitas penyimpanan.

Gudang milik UPTD Farmasi dinilai sudah tidak lagi mampu menampung volume stok yang terus meningkat seiring pertumbuhan jumlah penduduk dan fasilitas layanan kesehatan.

Kepala UPTD Farmasi Kabupaten Bekasi, Artik Ardianto, mengungkapkan bahwa saat ini pihaknya melayani kebutuhan obat untuk puluhan fasilitas kesehatan, mulai dari puskesmas hingga rumah sakit, termasuk berbagai program kesehatan seperti HIV, TBC, kusta, dan vaksinasi.

“UPTD Farmasi bertugas dari perencanaan sampai distribusi obat dan BMHP. Kita melayani kebutuhan untuk puskesmas, rumah sakit, termasuk obat program seperti HIV, TBC, paru, kusta, serta vaksinasi,” ujarnya, dikutip dari laman resmi Pemkab Bekasi, 15 April 2026.

Baca Juga: Kolaborasi Solid Pemkot dan BUMD Berbuah Prestasi, Bekasi Borong Penghargaan di Ajang Nasional

Namun, kapasitas gudang yang ada saat ini tidak lagi sebanding dengan meningkatnya kebutuhan.

Artik menyebutkan bahwa jumlah fasilitas kesehatan yang dilayani terus bertambah setiap tahun, sehingga kebutuhan ruang penyimpanan ikut meningkat signifikan.

“Gudang yang ada sekarang sudah tidak mencukupi. Jumlah fasilitas kesehatan terus bertambah, tahun ini saja sudah ada 55 Puskesmas. Secara keseluruhan, sekitar 57 fasilitas kesehatan yang kami layani,” ungkapnya.

Selain persoalan kapasitas, kendala infrastruktur juga memperparah kondisi. Akses menuju gudang dinilai terlalu sempit untuk kendaraan distribusi berukuran besar, seperti truk kontainer.

Baca Juga: Kasus Dugaan Bullying di SMAN 2 Bekasi Masih Diselidiki Polisi

Hal ini menyulitkan proses bongkar muat dan distribusi obat yang dilakukan secara rutin.

“Kondisi ini cukup menyulitkan, terutama saat proses distribusi rutin. Kami berharap ada perhatian dari pemerintah daerah untuk meninjau dan menyediakan gudang baru yang lebih layak dan strategis,” katanya.

Tidak hanya itu, keterbatasan lahan parkir juga menjadi hambatan tersendiri.

Saat ini area parkir hanya mampu menampung sekitar lima kendaraan, sementara aktivitas distribusi bisa melibatkan lebih dari 10 kendaraan dalam satu hari.

Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat berdampak pada kelancaran distribusi obat ke fasilitas kesehatan.

Jika tidak segera diatasi, potensi gangguan layanan kesehatan kepada masyarakat bisa terjadi.

Dengan meningkatnya kebutuhan obat setiap tahun, pembangunan gudang farmasi yang lebih representatif menjadi kebutuhan mendesak.

Pemerintah daerah diharapkan segera mengambil langkah konkret agar sistem distribusi obat tetap berjalan optimal dan pelayanan kesehatan masyarakat tidak terganggu.***