BEKASI.POJOKSATU.ID - Bencana tanah longsor yang menerjang Kecamatan Bojongmangu, Kabupaten Bekasi, menimbulkan kerusakan dan kerugian yang ditaksir mencapai Rp1.141.173.610.

Angka tersebut merupakan hasil Pengkajian Kebutuhan Pascabencana yang dirampungkan oleh BPBD Kabupaten Bekasi.

Berdasarkan data BPBD, longsor terjadi di lima titik yang tersebar di dua desa, yakni dua titik di Desa Sukabungah dan tiga titik di Desa Sukamukti.

Baca Juga: BPBD Minta Warga Bojongmangu Waspada Retakan Tanah, Ancaman Longsor Masih Mengintai

Peristiwa ini dipicu oleh hujan deras yang mengguyur kawasan perbukitan tersebut sejak 18 hingga 28 Januari 2026, menyebabkan tanah jenuh air dan kehilangan daya dukung.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bekasi, Muchlis, menjelaskan bahwa kerusakan paling mencolok terjadi pada bangunan SMPN 03 Bojongmangu.

Gedung sekolah permanen itu kini dalam kondisi rawan ambruk akibat pergerakan tanah yang terus terjadi di sekitarnya.

Baca Juga: Pemkot Bekasi Anggarkan Rp3,5 Miliar untuk Perbaikan Permanen Jalan Raya Caringin

“Kecamatan Bojongmangu merupakan wilayah perbukitan. Curah hujan yang sangat tinggi ditambah dengan minimnya saluran drainase di permukiman membuat air meresap ke dalam tanah secara berlebih dan merusak pondasi bangunan,” ujar Muchlis, Senin 23 Februari 2026.

Menurutnya, air hujan yang tidak mengalir melalui jalur drainase justru menekan struktur tanah dan pondasi bangunan.

Kondisi tersebut memperparah dampak longsor, terutama pada fasilitas publik seperti sekolah.

Baca Juga: Mudik Gratis BTN 2026 Resmi Dibuka! Kuota 3.500 Pemudik Siap Berangkat 17 Maret, Rute Jawa hingga Sumatera

“Air tidak mengalir pada jalurnya, melainkan meresap dan menekan pondasi bangunan warga maupun fasilitas publik,” ucapnya.

Dari total nilai kerusakan dan kerugian sebesar Rp1.141.173.610, sebagian besar berasal dari kerusakan fisik empat rumah warga dan satu bangunan sekolah yang mencapai Rp1.138.573.610.

Sementara itu, kerugian tambahan akibat dampak tidak langsung tercatat sebesar Rp2,6 juta.

Empat rumah warga yang terdampak berada di Desa Sukamukti, tepatnya di Kampung Legokcari, Kampung Legokbenda, dan Kampung Cibungur.

Tingkat kerusakan bervariasi dari ringan hingga sedang, dengan estimasi kerugian sektor permukiman sekitar Rp159 juta.

Baca Juga: Jalan Rusak di Mustika Jaya Picu Risiko Kecelakaan, Pemkot Bekasi Siapkan Perbaikan Maksimal

Kerusakan pada SMPN 03 Bojongmangu menjadi perhatian serius karena menyangkut keselamatan siswa dan tenaga pendidik.

Struktur bangunan yang terdampak pergerakan tanah berpotensi membahayakan aktivitas belajar mengajar jika tidak segera dilakukan penanganan permanen.

Muchlis menyatakan pihaknya telah menyampaikan hasil kajian kepada pemerintah daerah untuk segera ditindaklanjuti.

Baca Juga: Polres Metro Bekasi Gelar Patroli Gabungan Awasi Operasional THM

BPBD juga telah bersurat kepada Pelaksana Tugas Bupati Bekasi agar dinas terkait melakukan koordinasi percepatan perbaikan.

“Kami telah bersurat kepada Plt Bupati Bekasi dan menyarankan agar Dinas Pendidikan, Dinas SDABMBK, serta Dinas Cipta Karya segera berkoordinasi untuk perbaikan sekolah. Begitu juga dengan Dinas Perumahan Rakyat untuk penanganan rumah warga yang terdampak,” jelasnya.

BPBD menegaskan bahwa angka kerugian tersebut menjadi dasar perencanaan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.

Pemerintah daerah diharapkan segera mengambil langkah konkret agar kerusakan tidak semakin meluas dan aktivitas warga, terutama di sektor pendidikan, dapat kembali normal.

Dengan total kerugian yang menembus lebih dari Rp1,14 miliar, peristiwa longsor di Bojongmangu menjadi pengingat pentingnya mitigasi bencana di kawasan perbukitan.

Termasuk perbaikan sistem drainase dan penguatan struktur bangunan di wilayah rawan.***