BEKASI.POJOKSATU.id - Nama Fatir Arya Adinata, 12 tahun, pelajar korban bully asal SDN Jatimulya 9 ramai diperbincangkan.

Kondisinya penurunan kesehatannya disebut-sebut karena dia menjadi korban bully di tempat dia menimba ilmu.

Semua berawal saat Fatir tersandung kaki temannya saat bermain. Hal itu diduga kuat merupakan bagian dari bully yang dideritanya sejak lama.

Baca Juga: Pelajar Korban Bully asal SDN Jatimulya 9 Meninggal Dunia

Kini, Fatir telah tiada. Jasadnya dikebumikan di TPU Padurenan, Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi. Kepergiannya menyisakan duka mendalam.

Bagaimana riwayat pengobatan Fatir hingga dia dinyatakan meninggal dunia? Simak penjelasan di bawah ini.

Kuasa Hukum Korban Mila Cheah menjelaskan tanggal 18 November 2023, pukul 20.00 WIB, Fatir merasakan sesak napas dan segera dibawa ke rumah sakit terdekat.

Dokter menjelaskan ada cairan menggenang di paru-paru Fatir.

Baca Juga: Perundungan di SDN Jatimulya 9, KPAD Kabupaten Bekasi: Bullying Jangan Disepelekan

"Dan harus dilakukan tindakan penyedotan cairan dan Fatir dirujuk kembali ke RS Dharmais," tutur Milla, Kamis, 7 Desember 2023.

Dua hari kemudian Fatir dibawa ke RS Dharmais. Tapi, dia baru bisa masuk ruang perawatan pada 21 November 2023 sekira pukul 22.10 WIB.

"Pihak RS melakukan tindakan penyedotan di paru-paru, cairan darah berhasil dikeluarkan sebanyak 600-700 mililiter," ucap dia.

Tanggal 26 November 2023 Fatir menjalani amputasi di rumah sakit yang sama. Tanggal 27 November 2023, dia pun diperbolehkan pulang.

Mila menjelaskan kondisi kesehatan Fatir mengalami penurunan usai amputasi. Tanggal 1 Desember 2023 kondisinya kritis dan dia dirawat di RS Hermina Bekasi Barat.

Tanggal 5 Desember Fatir pun dipindahkan ke ruang isolasi rumah sakit tersebut.

Tanggal 7 Desember 2023, pukul 02.25 WIB, Fatir dinyatakan meninggal dunia.

Fatir diduga telah mejadi korban perundungan sejak Februari 2023. Kini Fatir telah tenang di alam sana, tubuhnya tidak lagi merasakan sakit dan jiwanya tidak lagi bersedih.

Meski demikian, orang yang ditinggalkan harus tetap bertabah hati. Karena, kini tidak ada lagi keceriaan bocah yang menjadi harapan keluarga itu.***