BEKASI.POJOKSATU.ID - Perbedaan sistem pendampingan antara jemaah haji yang tergabung dalam Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan jemaah mandiri kembali menjadi sorotan.

Pendamping Haji Daerah Kabupaten Bekasi, Zuli Zulkipli, mengungkapkan adanya kesenjangan layanan yang perlu mendapat perhatian serius dari pemangku kebijakan.

Menurut Zuli, jemaah yang mengikuti KBIH cenderung mendapatkan layanan yang lebih terstruktur dan sistematis sejak awal.

Mulai dari bimbingan manasik, pengurusan administrasi, hingga pelaksanaan ibadah di tanah suci, seluruh proses telah difasilitasi oleh lembaga yang berpengalaman.

Baca Juga: Tak Perlu Antre Subuh! Kini Klaim JHT Bisa Pilih Jam Sendiri, Peserta BPJS Cikarang Dimanjakan Sistem Baru

Sebaliknya, jemaah mandiri harus mengurus berbagai kebutuhan secara lebih aktif dan mandiri.

Mereka dituntut memahami manasik secara pribadi, menyiapkan dokumen, hingga memastikan kesiapan fisik dan mental tanpa pendampingan intensif seperti yang diterima jemaah KBIH.

“Perbedaannya lebih kepada sistem pendampingan. Di KBIH sudah terfasilitasi dengan baik, sedangkan jemaah mandiri membutuhkan penyesuaian dan kemandirian lebih dalam menjalani prosesnya,” ujar Zuli, dikutip dari laman resmi Pemkab Bekasi, 13 April 2026.

Ia menjelaskan, di Kabupaten Bekasi sendiri terdapat sekitar 116 jemaah haji mandiri dengan latar belakang sosial ekonomi yang beragam.

Baca Juga: 50 Ribu Buruh Akan Kepung DPR RI Saat May Day 2026

Kondisi ini membuat pendekatan pelayanan menjadi lebih kompleks dan membutuhkan fleksibilitas serta perhatian khusus.

Zuli menilai, meskipun perbedaan ini bukan untuk dibandingkan secara negatif, namun menjadi bahan evaluasi penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan haji secara menyeluruh.

Ia menekankan pentingnya sistem yang lebih inklusif agar seluruh jemaah, tanpa terkecuali, mendapatkan pendampingan yang memadai.

“Jemaah mandiri ini jumlahnya cukup signifikan, sehingga ke depan perlu ada perhatian lebih agar mereka juga mendapatkan pelayanan yang optimal,” katanya.

Lebih lanjut, ia berharap ke depan sistem pelayanan haji dapat semakin terintegrasi dan berbasis teknologi, sehingga tidak ada kesenjangan antara jemaah KBIH dan mandiri.

Dengan demikian, seluruh jemaah dapat menjalankan ibadah dengan lebih khusyuk dan nyaman.

Baca Juga: Rem Tak Berfungsi Dengan Baik, Truk Fuso Seruduk 8 Kendaraan di Lampu Merah Legenda

Dalam perannya sebagai PHD, Zuli menegaskan komitmennya untuk tetap memberikan pendampingan terbaik bagi seluruh jemaah.

Ia mengedepankan prinsip pelayanan yang humanis dan inklusif, tanpa membedakan status keberangkatan.

“Kami berupaya hadir untuk semua jemaah, termasuk yang mandiri, agar mereka tetap merasa didampingi dan terbantu selama proses ibadah berlangsung,” ungkapnya.***